Rabu, 24 September 2014
PROSES KEPERAWATAN DAN PENERAPANNYA DALAM
PRAKTEK KEPERAWATAN
PENDAHULUAN
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit di dalam seluruh siklus hidup manusia.
Pelayanan keperawatan yang diberikan berupa bantuan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kegiatan tersebut dilakukan dalam upaya peningkatan kesehatan dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan utama sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab serta etika profesi keperawatan.
Sebagai profesi yang mandiri, keperawatan perlu ditempatkan sejajar dengan profesi lain. Oleh karena itu, keperawatan harus terus menerus mengembangkan ilmunya dan menetapkan standar untuk mengontrol dan mengarahkan praktek keperawatan. Dengan meningkatnya otonomi, keperawatan akan turut menentukan kualitas pelayanan kesehatan yang diterima klien.
Dengan demikian keperawatan sebagai suatu profesi haruslah dilandasi oleh kelompok ilmu pengetahuan, menggunakan berbagai metode pendekatan antara lain proses keperawatan sebagai salah satu metode pemberian asuhan keperawatan pada klien dipakai untuk membantu perawat melakukan praktek keperawatan secara sistematis dan ilmiah. Selain itu, melalui penerapan proses keperawatan, perawat mendemontrasikan tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap klien, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya keperawatan.
KONSEP PROSES KEPERAWATAN
Ilmu keperawatan didasarkan pada suatu teori yang sangat luas. Proses Keperaatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving (pemecahan masalah) yang memerlukan ilmu, teknik, keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien/keluarga. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang sequensial dan berhubungan; pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan eveluasi (Iyer dkk., 1996). Tahap-tahap tersebut berintegrasi terhadap fungsi intelektual problem solving dalam mendefinikan suatu tindakan keperawatan.
DEFINISI PROSES KEPERAWATAN
Sekarang hampir semua buku tentang keperawatan selalu mencantumkan proses keperawatan yang digunakan sebagai kerangka kerja, dasar, pengantar dari kajian ilmu keperawatan. Dengan berkembangnya waktu, proses keperawatan telah dianggap sebagai suatu dasar hukum praktek keperawatan . Menurut Yura dan Walsh (1983) proses keperawatan adalah suatu metode sistematis dan ilmiah yang digunakan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien dalam mencapai atau mempertahankan keadaan bio-psiko-sosial dan spiritual yang optimal, melalui tahapan-tahapan; pengkajian, identifikasi diagnosa keperawatan, penentuan perencanaan keperawatan, melaksanakan tindakan keperawatan serta eveluasi. Sedangkan Griffith-Kenney dan Christensen (1986) mendefinisikan proses keperawatan sebagai aktivitas yang logis dan rasional untuk melakukan praktek keperawatan secara sitematis dengan menggunakan pengetahuan yang komprehensif untuk mengkaji status kesehatan klien, merumuskan diagnosa keperawatan, menetapkan rencana, mengimplementasikan dan mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan.
Definisi dan tahapan proses keperawatan telah digunakan sebagai dasar pengembangan standar praktek keperawatan, sebagai kriteria dalam program sertifikasi, sebagai definisi dan standar legal praktek keperawatan. Definisi proses keperawatan secara umum adalah dapat dibedakan menjadi tiga dimensi; (1) tujuan, (2) organisasi, (3) karakteristik. Tujuan proses keperawatan secara umum adalah untuk membuat suatu kerangka konsep berdasarkan kebutuhan individu dari klien, keluarga dan masyarakat dapat terpenuhi. Yura dan Walsh (1983) menyatakan proses keperawatan adalah suatu tahapan desain tindakan yang ditujukan untuk memenuhi tujuan keperawatan, yang meliputi; mempertahankan keadaan kesehatan klien yang optimal, apabila keadaan berubah membuat suatu jumlah dan kualitas tindakan keperawatan terhadap kondisinya guna kembali keadaan yang normal. Jika kesehatan yang optimal tidak dapat tercapai, proses keprawatan harus dapat mefasilitasi kualitas kehidupan yang maksimal berdasarkan keadaannya untuk mencapai derajat kehidupan yang lebih tinggi selama hidupnya (Iyer dkk., 1996). Organisasi, seperti yang dijabarkan sebelumnya, proses keperawatan dikelompokan menjadi liama tahap; pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Kelima tahap dalam proses keperawatan tersebut sebagai suatu organisasi yang mengatur pelaksanaan asuhan keperawatan berdasarkan suatu rangkaian pengelolaan yang sistematik dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien. Karakteristik proses keperawatan mempunyai enam karakteristik yang terdiri dari tujuan, sistimatik, dinamik, interaktif, fleksibel dan teoritis. Tujuan; proses keperawatan mempunyai tujuan yang jelas melalui suatu tahapan dalam meningkatkan kualitas asuhan keperawatan kepada klien. Sistematik; menggunakan suatu pendekatan yang terorganisir untuk mencapai suatu tujuan, hal ini memungkinkan untuk meningkatkan kualitas keperawatan dan menghindari masalah yang bertentangan dengan tujuan intuisi pelayanan kesehatan / keperawatan. Dinamik; proses keperawatan ditujukan dalam mengatasi masala-masalah kesehatan klien yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Proses keperawatan ditujukan pada suatu perubahan respon klien yang diidentifikasi melalui hubungan antara perawat dan klien. Interaktif; dasar hubungannya adalah hubungan timbal balik antar perawat, klien keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. Fleksibel; adalah suatu proses yang dapat dilihat dalam dua konteks; (1) dapat diadopsi pada praktek keperawatan dalam situasi apapun, spesialisasi yang berhubungan dengan individu, kelompok atau masyarakat dan (2) tahapannya bisa digunakan secara berurutan dan dengan persetujuan kedua belah pihak. Teoritis; setiap langak dalam proses keperawatan selalu didasarkan pada suatu ilmu yang luas, khususnya ilmu dan model keperawatan yang berlandaskan pada filosofi keperawatan, bahwa asuhan keperawatan kepada klien harus menekankan kepada tiga aspek; (1) humanistik; memandang dan memperlakukan klien sebagai manusia dan bahkan sebagai perawat, (2) holistik; intervensi keperawatan harus dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia secara utuh (bio-psiko-sosial-spiritual) dan (3) Care; asuhan keperawatan yang diberikan harus berlandaskan pada standar praktek dan etika keperawatan.
IMPLIKASI PROSES KEPERAWATAN
Penerapan proses keperawatan mempunyai implikasi atau dampak terhadap profesi keperawatan, klien dan perawat itu sendiri.
Implikasi Terhadap Profesi Keperawatan :
Secara profesional , proses keperawatan menyajikan suatu lingkup praktek keperawatan melalui lima langkah. Keperawatan secara terus menerus mendefinisikan peranannya kepada klien dan profesi kesehatan lainnya. Hal ini menunjukan bahwa keperawatan tidak hanya melaksanakan rencana. Praktek keperawatan mencakup standar praktek dan standar tersebut diadopsi dan diterbitkan oleh American Nurse’ Assocition (ANA, 1973). Perawat mempunyai tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar keperawatan tanpa melihat dimana dia bekerja dan spesialisasinya. Di Indonesia pelaksanaan standar praktek keperawatan juga telah diatur dalam peraturan pemerintah melalui Undang-undang Kesehatan di Indonesia (Depkes, 1992) dan diberlaukannya PERMENKES No. 647 / 2000 dan dirvisi dengan PERMENKES No. /2001 yang mengatur tentang praktik keperawatan di Indonesia.
Implikasi Terhadap Klien :
Penggunaan proses keperawatan sangat bermanfaat bagi klien dan keluarga. Kegiatan ini mendorong mereka untuk berpartisipasi secara aktif dalam keperawatan dengan melibatkan mereka ke dalam lima langkah proses. Klien menyediakan sumber untuk pengkajian, validasi diagnosa keperawatan dan menyediakan umpan balik untuk evaluasi. Perencanaan keperawatan yang tersusun dengan baik, akan memungkinkan perawat dapat memberikan pelayanan keperawatan secara kontinyu, aman, dan terciptanya lingkungan yang terapiutik. Keadaan tersebut akan membantu mempercepat kesembuhan klien dan memungkinkan klien dapat beradaptasi terhadap lingkungan yang ada.
Implikasi Terhadap Perawat :
Proses keperawatan akan meningkatkan kepuasan dalam bekerja dan meningkatkan perkembangan profesionalisasi. Peningkatan hubungan antara perawat dengan klien dapat dilakukan melalui penerapan proses keperawatan. Proses keperawatan memungkinkan suatu pengembangan dan kreatifitas dalam menjelaskan masalah klien. Hal ini akan mencegah dalam pekerjaan yang bersifat rutinitas, kejenuhan perawat dan task-oriented approach.
FUNGSI PROSES KEPERAWATAN
Berdasar uraian uraian diatas maka dapat dirumuskan beberapa fungsi dari proses keperawatan :
1. Proses keperawatan merupakan metode / pendekatan yang digunakan dalam pemberian asuhan keperawatan, yakni digunakan sebagai landasan berfikir ilmiah untuk melaksanakan fungsi dan tanggung jawab keperawatan secara mandiri.
2. Proses keperawatan adalah sebagai alat untuk membantu terlaksananya praktek keperawatan yang sistematis dan ilmiah untuk memenuhi kebutuhan klien mencapai dan mempertahankan keadaan bio-psiko-sosial dan spiritual yang optimal melalui tahapan-tahapannya. Dengan demikian proses keperawatan sangat relevan dengan pengembangan profesionalisme keperawatan yang pada akhirnya akan meningkatkan pelayanan keperawatan.
3. Proses keperawatan dapat digunakan pada semua bentuk penugasan dalam keperawatan, tetapi lebih bermakna apabila digunakan pada metode penugasan primer, dimana pelayanan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan klien (individu/keluarga/masyarakat).
TAHAP – TAHAP PROSES KEPERAWATAN
Melalui proses keperawatan, perawat dapat menerapkan pengetahuan yang komprehensif untuk mengkaji status kesehatan klien, mengidentifikasi masalah atau diagnosa keperawatan, merencanakan intervensi, mengimplementasikan dan mengevaluasi intervensi yang telah dilakukan. Proses keperawatan merupakan pendekatan yang sistematis dan ilmiah dalam praktek keperawatan, dimana kelima komponennya saling berinteraksi satu dan yang lain, seperti ditunjukan pada diagram dibawah ini :
Tahap 2 Tahap 3 Tahap 4
DIAGNOSA PERENCANAAN IMPLEMENTASI
– Pengorganisasian data – Menetapkan tujuan – Validasi dan
– Perioritas masalah – Merumuskan tindakan penetapan rencana
– Formulasi Diagnosa keperawatan.
Tahap 1 Tahap 5
PENGKAJIAN EVALUASI
– Pengumpulan data – Evaluasi proses dan
– Validasi data hasil
– Modifikasi
Diagram I. Komponen Proses Keperawatan ( Varcarolis, 1990)
I. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap pertama proses keperawatan dimana pengumpulan data dilakukan secara sistematis untuk menentukan status kesehatan klien saat ini, mengidentifikasi pola koping klien yang lalu dan saat ini (Iyer dkk., 1996). Pengkajian harus dilakukan menyeluruh terhadap aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pada kenyataannya perawat lebih mengutamakan data biologis/fisik, sedangkan data psikologis, sosial dan spiritual seringkali kurang diperhatikan. Oleh karena itu pengkajian yang akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan diagnosa keperawatan sesuai dengan respon individu, sebagaimana yang telah ditentukan dalam standar keperawatan dari ANA (American Nursing Association).
Data yang dikumpulkan berguna untuk aktivitas atau tindakan keperawatan yang dibutuhkan klien dan juga sebagai sumber data bagi profesi lain, karena pertukaran data antar profesi sangat penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan.
Pengumpulan data difokuskan untuk mengidentifikasi :
1. Status kesehatan klien
2. Pola pertahanan/koping yang biasa digunakan
3. Respon klien terhadap pengobatan / terapi
4. Faktor resiko yang menyebabkan timbulnya masalah
5. Kebutuhan yang menimbulkan timbulnya masalah
6. Fungsi klien saat ini.
Pengkajian dilakukan melalui beberapa metode antara lain :
1. Wawancara terhadap riwayat kesehatan klien dan keluarga
2. Pemeriksaan fisik ( inspekasi, palpasi, perkusi dan auskultasi)
3. Observasi
4. Mengkaji catatan dan hasil pemeriksaan penunjang
5. Kerjasama dengan tim kesehatan lain.
Tipe data yang harus dikumpulkan yaitu :
1. Data subyektif, yaitu data yang tidak dapat diobservasi secara langsung dan tidak dapat diukur, misalnya nyeri, pusing dan sebagainya yang dikeluhkan/dirasakan oleh klien.
2. Data obyektif, yaitu data yang diperoleh berdasarkan observasi dan dapat diuji dengan standar yang berlaku, misalnya merah, bengkak, panas dan sebagainya.
Data harus dikumpulkan sesuai dengan format pengkajian yang telah ditetapkan. Setelah dapat dikumpulkan lalu disimpulkan, kemungkinan kesimpulan antara lain :
1. Tidak ada masalah, perlu pengecekan ulang secara berkala
2. Tidak ada masalah saat ini, tetapi memerlukan peningkatan kesehatan
3. Adanya masalah; aktual, dan non aktual
Elemen yang akan dievaluasi pada tahap pengkajian ini adalah :
1. Akurasi dan sistematika data
2. Kelengkapan data
3. Validasi data
4. Kualitas data
5. Alternatif pengumpulan data
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Capernito (2000) diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifiakasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan. Dan menurut Gordon (1976) mendefinisikan diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan potensil dimana perawat berdasarkan pendidikan dan penglamannya mampu dan mempunyai wewenang untuk memberikan tindakan keperawatan. Sedangkan menurut NANDA diagnosa keperawatan adalah kesimpulan klinis terhadap respon individu, keluarga dan masyarakat terhadap masalah kesehatan aktual dan potensial atau diagnosa keperawatan adalah merupakan dasar untuk menetapkan tindakan keperawatan dalam mencapai tujuan. Semua diagnosa keperawatan harus didukung oleh data, dimana menurut NANDA diartikan sebagai definisi karakteristik yang dinamakan tanda dan gejala. Tanda adalah sesuatu yang dapat diobservasi sedangkan gejala adalah sesuatu yang dirasakan oleh klien. Diagnosis Keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 & NANDA).
Diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosis keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi, dimana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat.
Dari definisi diatas jelaslah bahwa diagnosa keperawatan yang dirumuskan harus sesuai dengan kewenangan perawat. Komponen diagnosa keperawatan terdiri dari; problem, etiologi dan simtom (tanda dan gejala).
Perbedaan Diagnosa Keperawatan dan diagnosa Medis adalah seperti diuraikan pada tabel dibawah ini :
DIAGNOSA MEDIS DIAGNOSA KEPERAWATAN
* Fokus : Faktor – faktor pengobatan penyakit * Fokus : Reaksi / respon klien terhadap tindakan keperawatan / medis / lainnya
* Orientasi : Kepada patologi * Orientasi : Kebutuhan dasar manusia
* Cenderung tetap, mulai sakit sampai sembuh * Berubah sesuai perubahan respon klien
* Mengarah pada tindakan medis yang sebagian dilimpahkan kepeda perawat * Mengarah pada fungsi mandiri perawat dalam melaksanakan tindakan dan evaluasinya
* Diagnosa medis melengkapi diagnosa keperawatan * Diagnosa keperawatan melengkapi diagnosa medis
Contoh :
Cemas sedang sehubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur tindakan pembedahan yang ditandai dengan jantung berdebar-debar saat menggingat akan dilakukan tindakan pembedahan, ekspresi wajah tegang, keringat dingin, meremas-remas jari dan mengatakan tidak tahu tindakan yang dilakukan terhadap dirinya.
Tipe Diagnosa Keperawatan terdiri dari :
1. Aktual; diagnosa keperawatan yang menjelaskan masalah yang ada pada saat ini, sesuai dengan data klinik yang didapatkan. Menggambarkan peniliaian klinis karena masalah sudah timbul. Atau menurut (NANDA) adalah diagnosis yang menyajikan keadaan klinis yang telah divalidasikan melalui batasan karakteristik mayor yang diidentifikasi. Diagnosis keperawatan mempunyai empat komponen : label, definisi, batasan karakteristik, dan faktor yang berhubungan.
Label merupakan deskripsi tentang definisi diagnosis dan batasan karakteristik. Definisi menekankan pada kejelasan, arti yang tepat untuk diagnosa. Batasan karakteristik adalah karakteristik yang mengacu pada petunjuk klinis, tanda subjektif dan objektif. Batasan ini juga mengacu pada gejala yang ada dalam kelompok dan mengacu pada diagnosis keperawatan, yang teridiri dari batasan mayor dan minor. Faktor yang berhubungan merupakan etiologi atau faktor penunjang. Faktor ini dapat mempengaruhi perubahan status kesehatan. Faktor yang berhubungan terdiri dari empat komponen : patofisiologi, tindakan yang berhubungan, situasional, dan maturasional. Label yang digunakan: Gangguan, Perubahan, Kerusakan, Tidak efektif, Kekurangan, Kelebihan, Penurunan, Disfungsi, Peningkatan, Distress, Ketidakseimbangan, Intoleransi dan lain-lain
Contoh diagnosis keperawatan aktual : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan transport oksigen, sekunder terhadap tirah baring lama, ditandai dengan nafas pendek, frekuensi nafas 30 x/mnt, nadi 62/mnt-lemah, pucat, sianosis.
2. Risiko; menggambarkan penilaian klinis dimana individu/kelompok lebih rentan untuk mengalami masalah dibandingkan dengan orang lain dalam situasi yang sama atau serupa. Diagnosis keperawatan resiko adalah keputusan klinis tentang individu, keluarga atau komunitas yang sangat rentan untuk mengalami masalah dibanding individu atau kelompok lain pada situasi yang sama atau hampir sama.
Validasi untuk menunjang diagnosis resiko adalah faktor resiko yang memperlihatkan keadaan dimana kerentanan meningkat terhadap klien atau kelompok dan tidak menggunakan batasan karakteristik. Penulisan rumusan diagnosis ini adalag : PE (problem & etiologi). Label yang digunakan : Risiko, Risiko tinggi, Risiko terhadap
Contoh : Resiko penularan TB paru berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang resiko penularan TB Paru, ditandai dengan keluarga klien sering menanyakan penyakit klien itu apa dan tidak ada upaya dari keluarga untuk menghindari resiko penularan (membiarkan klien batuk dihadapannya tanpa menutup mulut dan hidung).
3. Diagnosis Keperawatan Kemungkinan; Merupakan pernyataan tentang masalah yang diduga masih memerlukan data tambahan dengan harapan masih diperlukan untuk memastikan adanya tanda dan gejala utama adanya faktor resiko. Pada keadaan ini masalah dan etiologi belum jelas, tetapi faktor yang dapat menimbulkan masalah sudah ada. Misalnya kemungkinan fungsi seksual terganggu sehubungan dengan dampak tindakan hysterectomy. Label yang digunakan Kemungkinan
Contoh : Kemungkinan gangguan konsep diri : gambaran diri berhubungan dengan tindakan mastektomi.
4. Diagnosis Keperawatan Sejahtera; Diagnosis keperawatan sejahtera adalah ketentuan klinis mengenai individu, kelompok, atau masyarakat dalam transisi dari tingkat kesehatan khusus ke tingkat kesehatan yang lebih baik. Cara pembuatan diagnsosis ini adalah dengan menggabungkan pernyataan fungsi positif dalam masing-masing pola kesehatan fungsional sebagai alat pengkajian yang disahkan. Dalam menentukan diagnosis keperawatan sejahtera, menunjukkan terjadinya peningkatan fungsi kesehatan menjadi fungsi yang positif.
Contoh, pasangan muda yang kemudian menjadi orangtua telah melaprkan fungsi positif dalam peran pola hubungan. Perawat dapat memakai informasi dan lahirnya bayi baru sebagai tambahan dalam unit keluarga, untuk membantu keluarga mempertahankan pola hubungan yang efektif. Contoh lain perilaku mencari bantuan kesehatan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang peran sebagai orangtua baru.
5. Sindrom; Adalah diagnosa keperawatan yang terdiri dari sekelompok diagnosa keperawatan aktual dan risiko tinggi yang diperkirakan ada karena situasi/peristiwa tertentu atau diduga akan muncul karena suatu kejadian atau situasi tertentu.. Label yang digunakan : Sindrom
Contoh : sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik.
Elemen yang perlu dievaluasi pada tahap kedua ini adalah :
1. Kesesuaian masalah dengan lingkup perawatan
2. Kejelasan masalah
3. Akuratnya masalah dan faktor penyebab (etiologi)
4. Validitas masalah
III. Komponen diagnosa : PES atau menimal PE ( P = Problem/masalah, E = Etiologi/ penyebab, S = Symtom = tanda/gejala).
Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses keperawatan, perumusan diagnosa keperawatan ini sangatlah vital untuk dilakukan. Pernahkan kita mendengar beberapa diagnosa keperawatan pada pasien. Hasil uji coba penulis terhadap beberapa perawat di 3 rumah sakit di kota Bandung dan Cimahi didapatkan adanya kesimpangsiuran dalam penulisan diagnosa keperawatan ini, bahkan hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh perawat pelaksana yang telah terbiasa dengan pola perilaku pekerjaan rutinitas sehari-hari, bahkan dosen yang mengajar proses keperawatanpun seringkali memberikan suatu masukan terhadap mahasiswa dengan menggunakan persepsi pribadinya yang pada akhirnya akan saling menyalahkan antara satu dosen dengan dosen lainnya ataupun perawat satu dengan lainnya terhadap frase dari diagnosa keperawatan tersebut. Percobaan yang dilakukan adalah dengan memberikan suatu soal kepada perawat tentang suatu kondisi pasien yaitu : klien mengeluh sesak, batuk, adanya sekret pada saluran nafas, ronchi (+), Wheezing (+), RR = 32 x/menit.
Lalu apa yang saya dapatkan….?
Perawat-perawat menjawab diagnosa tersebut sebagai berikut :
1. Gangguan rasa nyaman batuk
2. Gangguan pemenuhankebutuhan oksigenasi
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen dan karbondioksida
4. Sesak
5. Pemenuhan oksigen tidak terpenuhi
6. Gangguan pertukaran oksigen
7. Jalan nafas takefektif
8. dll
Begitu banyaknya diagnosa keperawatan yang muncul dan ketika didiskusikan ternyata para perawat tersebut saling menyalahkan terhadap diagnosa keperawatan yang tidak sesuai dengan apa yang mereka anut. Padahal jika kita merujuk kepada aspek profesionalisme, pastilah adanya suatu patokan terhadap diagnosa keperawatan yang muncul tersebut. Jika kita lihat kepada sumber maka diagnosa keperawatan yang benar untuk masalah di atas adalah “bersihan jalan nafas tak efektif”. Ternyata ada jawaban yang telah mendekati benar hanya saja jawaban tersebut tidak/kurang lengkap terhadap diagnosa keperawatan yang dianut oleh NANDA.
Sebenarnya NANDA adalah Singkatan dari North American Nursing Diagnosis Association (Asosiasi Diagnosa Keperawatan Amerika Utara). Meskipun singkatan NANDA lebih memaknakan sebuah organisasi, namun jangan terlihat tersurat, lebih menyimaknya secara tersirat.
NANDA secara internasional memiliki komitmen untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman keperawatan dalam membangun, menjabarkan, dan mengklasifikasi aspek keperawatan. Secara esensial NANDA mengembangkan, menjabarkan dan menyebarluaskan informasi Taksonomi Diagnosa Keperawatan yang secara umum digunakan oleh perawat profesional.Taksonomi ini merupakan konsep kerangka kerja dalam menentukan sebuah diagnosa keperawatan. Konsep dari diagnosa keperawatan sendiri adalah upaya keberhasilan pendekatan klinis keperawatan dan diagnosa keperawatan secara internasional dianggap penting dalam pendekatan sistem dan rencana keperawatan klien/pasien (Barnum, 1994)
IV. NANDA nomenklatur diagnosa keperawatan lebih melambangkan pengambilan keputusan tindakan klinis keperawatan tentang masalah kesehatan yang aktual atau potensial. Diagnosa Keperawatan NANDA menjelaskan tentang reaksi pasien terhadap penyakit atau trauma yang dapat diperbandingkan dengan kode ICD-9-CM(International Code of Diseases)/ diagnosa medis kedokteran, yang lebih menjelaskan penyakit atau trauma secara medis. NANDA saat ini berisi 167 diagnosa keperawatan yang telah disepakati dan terbagi dalam 9 domain (ranah). Setiap diagnosa terdiri dari label/judul, definisi, karakteristik umum dan khusus masing-masing definisi, dan faktor yang terkait.
Secara mudahnya NANDA adalah metode yang umum untuk menentukan dan mengmbangkan diagnosa keperawatan. Survey terbaru dari 43 Fakultas Keperawatan di Michigan, Amerika Serikat mengindikasikan bahwa penggunaan NANDA nomenklatur tetap konsisten tinggi di angka 91% (Keenan, 2001). Bahkan sebagian besar universitas mengajarkan NANDA nomenklatur dalam kurikulum mereka. Saat mengkaitkan dengan klasifikasi Intervensi keperawatan (nursing intervention classification – NIC) dan klasifikasi tujuan diagnosa keperawatan (nursing outcomes classification – NOC), semua dikembangkan di Universitas Keperawatan Iowa. Sehingga sangat membantu menjelaskan proses keperawatan secara utuh. Sejarah Pengembangan Nomenklatur Diagnosa Keperawatan NANDA Kebutuhan untuk menstandarisasi bahasa dalam medical records (rekam medik) adalah bukan hal yang baru. Hal ini lebih dalam upaya mendefinisikan peran perawat, konstribusi dan keunikkan body of knowledge keperawatan yang akhirnya mengarahkan pengembangan klasifikasi diagnosa keperawatan.
Pada tahun 1973 Kristine Gebbie dan Mary Ann Lavin pertama kalinya membuat kelompok kerja (task force) untuk memberi nama dan mengklasifikasi Diagnosa Keperawatan. Kemudian tim kerja yang diberi nama Task Force of the National Conference Group on the Classification of Nursing Diagnoses (Pokja Konferensi Nasional Klasifikasi Diagnosa Keperawatan). Pokja ini terbentuk di tahun 1974, dan di tahun 1982 NANDA menyusun Pokja Nasional yang beranggotakan Amerika Serikat dan Kanada.Di tahun 1986, The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) membuat sistem klasifikasi yang memberi judul dan membunyikan diagnosa keperawatan. Taksonomi ini awalnya hanya daftar diagnosa keperawatan yang tersusun secara alphabet, namun kemudian menjadi satu sistem panduan klasifikasi diagnosa keperawatan (taksonomi) di tahun 1987 dikenal dengan Taksonomi NANDA I, dan menjadi standar teksbook pendidikan perawat di Amerika Serikat dan diseluruh dunia. Taksonomi NANDA II yang terbaru terbit di tahun 2003-2004.
Taksonomi NANDA
Sebuah taksonomi berarti sebuah metode yang terorganisir dari beberapa kumpulan informasi. NANDA dengan mudahnya membuat kerangka kerja diagnosa keperawatan lebih mudah dipetakan dan terstandarisasi. NANDA adalah sebuah kode yang tediri dari 9 (NINE) ” Human Response Patterns” – sembilan pola respon tubuh manusia.
1. Exchanging
2. Communicating
3. Relating
4. Valuing
5. Choosing
6. Moving
7. Perceiving
8. Knowing
9. Feeling
Daftar Diagnosa keperawatan versi NANDA memasukkan unsur 3 masalah :
• Actual problems (Masalah Aktual)
• Risks for problems (Masalah Resiko)
• Welness Issues (Isu Sehat-sakit)
Dan setiap diagnosa keperawatan menyertakan selalu 4 komponen yang terpisah yaitu :
• Judul Diagnosa
• Definisi
• Karakteristik Umum dan Khusus tiap masalah
• Faktor Resiko/terkait
Sebagai contoh, diagnosa keperawatan “Nyeri” didefinisikan sebagai ” Suatu keadaan tidak nyaman dari sensoris dan melibatkan pengalaman emosional klien yang mungkin muncul akibat kerusakan jaringan tubuh (aktual/potensial); yang muncul sesaat/perlahan dalam intensitas ringan – berat, yang dapat diprediksi, dan dalam durasi kurang dari 6 bulan. Karakteristik umum termasuk keluhan secara verbal, adanya tanda, penggunaan “pain killer drugs”, perilaku protektif terhadap nyeri. Karakteristik khusus termasuk ” fokus terhadap diri, gangguan persepsi terhadap waktu, gangguan proses pikir, penurunan interaksi dengan lingkungan dan orang lain, perilaku distraksi. Faktor yang berhubungan dengan nyeri antara lain adanya trauma biologis, kimia, fisik, dan psikologis.
KOMPONEN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Rumusan diagnosis keperawatan mengandung tiga komponen utama, yaitu :
1. Problem (P/masalah), merupakan gambaran keadaan klien dimana tindakan Keperawatan dapat diberikan. Masalah adalah kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya tidak terjadi.
Tujuan : menjelaskan status kesehatan klien atau masalah kesehatan klien secara jelas dan sesingkat mungkin. Diagnosis keperawatan disusun dengan menggunakan standar yang telah disepakati (NANDA, Doengoes, Carpenito, Gordon, dll), supaya
a. Perawat dapat berkomunikasi dengan istilah yang dimengerti secara umum
b. Memfasilitasi dan mengakses diagnosa keperawatan
c. Sebagai metode untuk mengidentifikasi perbedaan masalah keperawatan dengan masalah medis
d. Meningkatkan kerjasama perawat dalam mendefinisikan diagnosis dari data pengkajian dan intervensi keperawatan, sehingga dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan.
2. Etiologi (E/penyebab), keadaan ini menunjukkan penyebab keadaan atau masalah kesehatan yang memberikan arah terhadap terapi keperawatan. Penyebabnya meliputi : perilaku, lingkungan, interaksi antara perilaku dan lingkungan.
Unsur-unsur dalam identifikasi etiologi :
a. Patofisiologi penyakit : adalah semua proses penyakit, akut atau kronis yang dapat menyebabkan / mendukung masalah.
b. Situasional : personal dan lingkungan (kurang pengetahuan, isolasi sosial, dll)
c. Medikasi (berhubungan dengan program pengobatan/perawatan) : keterbatasan institusi atau rumah sakit, sehingga tidak mampu memberikan perawatan.
d. Maturasional :
Adolesent : ketergantungan dalam kelompok
Young Adult : menikah, hamil, menjadi orang tua
Dewasa : tekanan karier, tanda-tanda pubertas.
3. Sign & symptom (S/tanda & gejala), adalah ciri, tanda atau gejala, yang merupakan informasi yang diperlukan untuk merumuskan diagnosis keperawatan. Jadi rumusan diagnosis keperawatan adalah : PE / PES.
PERSYARATAN PENYUSUNAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Perumusan harus jelas dan singkat dari respon klien terhadap situasi atau keadaan yang dihadapi
2. Spesifik dan akurat (pasti)
3. Dapat merupakan pernyataan dari penyebab
4. Memberikan arahan pada asuhan keperawatan
5. Dapat dilaksanakan oleh perawat.
6. Mencerminan keadaan kesehatan klien.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENENTUKAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Berorientasi kepada klien, keluarga dan masyarakat
2. Bersifat aktual atau potensial
3. Dapat diatasi dengan intervensi keperawatan
4. Menyatakan masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat, serta faktor faktor penyebab timbulnya masalah tersebut.
ALASAN PENULISAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif
2. Memberikan kesatuan bahasa dalam profesi keperawatan
3. Meningkatkan komunikasi antar sejawat dan profesi kesehatan lainnya
4. Membantu merumuskan hasil yang diharapkan / tujuan yang tepat dalam menjamin mutu asuhan keperawatan, sehingga pemilihan intervensi lebih akurat dan menjadi pedoman dalam melakukan evaluasi
5. Menciptakan standar praktik keperawatan
6. Memberikan dasar peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.
PROSES PENYUSUNAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Klasifikasi & Analisis Data
Pengelompokkan data adalah mengelompokkan data-data klien atau keadaan tertentu dimana klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria permasalahannya. Pengelmpkkan data dapat disusun berdasarkan pola respon manusia (taksonomi NANDA) dan/atau pola fungsi kesehatan (Gordon, 1982);
Respon Manusia (Taksonomi NANDA II) :
a. Pertukaran
b. Komunikasi
c. Berhubungan
d. Nilai-nilai
e. Pilihan
f. Bergerak
g. Penafsiran
h. Pengetahuan
i. Perasaan
Pola Fungsi Kesehatan (Gordon, 1982) :
a. Persepsi kesehatan : pola penatalaksanaan kesehatan
b. Nutrisi : pola metabolisme
c. Pola eliminasi
d. Aktivitas : pola latihan
e. Tidur : pola istirahat
f. Kognitif : pola perseptual
g. Persepsi diri : pola konsep diri
h. Peran : pola hubungan
i. Seksualitas : pola reproduktif
j. Koping : pola toleransi stress
k. Nilai : pola keyakinan
2. Mengindentifikasi masalah klien
Masalah klien merupakan keadaan atau situasi dimana klien perlu bantuan untuk mempertahankan atau meningkatkan status kesehatannya, atau meninggal dengan damai, yang dapat dilakukan oleh perawat sesuai dengan kemampuan dan wewenang yang dimilikinya Identifikasi masalah klien dibagi menjadi : pasien tidak bermasalah, pasien yang kemungkinan mempunyai masalah, pasien yang mempunyai masalah potensial sehingga kemungkinan besar mempunyai masalah dan pasien yang mempunyai masalah aktual.
a. Menentukan kelebihan klien
Apabila klien memenuhi standar kriteria kesehatan, perawat kemudian menyimpulkan bahwa klien memiliki kelebihan dalam hal tertentu. Kelebihan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan atau membantu memecahkan masalah yang klien hadapi.
b. Menentukan masalah klien
Jika klien tidak memenuhi standar kriteria, maka klien tersebut mengalami keterbatasan dalam aspek kesehatannya dan memerlukan pertolongan.
c. Menentukan masalah yang pernah dialami oleh klien
Pada tahap ini, penting untuk menentukan masalah potensial klien. Misalnya ditemukan adanya tanda-tanda infeksi pada luka klien, tetapi dari hasil test laboratorium, tidak menunjukkan adanya suatu kelainan. Sesuai dengan teori, maka akan timbul adanya infeksi. Perawat kemudian menyimpulkan bahwa daya tahan tubuh klien tidak mampu melawan infeksi.
d. Penentuan keputusan
– Tidak ada masalah, tetapi perlu peningkatan status dan fungsi (kesejahteraan) : tidak ada indikasi respon keperawatan, meningkatnya status kesehatan dan kebiasaan, serta danya inisiatif promosi kesehatan untuk memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga.
– Masalah kemungkinan (possible problem) : pola mengumpulkan data yang lengkap untuk memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga
– Masalah aktual, resiko, atau sindrom : tidak mampu merawat karena klien menolak masalah dan pengobatan, mulai untuk mendesain perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk mencegah, menurunkan, atau menyelesaikan masalah.
– Masalah kolaboratif : konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional yang ompeten dan bekerja secara kolaboratif pada masalah tersebut. Masalah kolaboratif adalah komplikasi fisiologis yang diakibatkan dari patofisiologi, berhubungan dengan pengobatan dan situasi yang lain. Tugas perawat adalah memonitor, untuk mendeteksi status klien dan kolaboratif dengan tenaga medis guna pengobatan yang tepat.
3. Memvalidasi diagnosis keperawatan
Adalah menghubungkan dengan klasifikasi gejala dan tanda-tanda yang kemudian merujuk kepada kelengkapan dan ketepatan data. Untuk kelengkapan dan ketepatan data, kerja sama dengan klien sangat penting untuk saling percaya, sehingga mendapatkan data yang tepat. Pada tahap ini, perawat memvalidasi data yang ada secara akurat, yang dilakukan bersama klien/keluarga dan/atau masyarakat. Validasi tersebut dilaksanakan dengan mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang reflektif kepada klien/keluarga tentang kejelasan interpretasi data. Begitu diagnosis keperawatan disusun, maka harus dilakukan validasi.
4. Menyusun diagnosis keperawatan sesuai dengan prioritasnya
Setelah perawat mengelompokkan, mengidentifikasi, dan memvalidasi data-data yang signifikan, maka tugas perawat pada tahap ini adalah merumuskan suatu diagnosis keperawatan. Diagnosa keperawatan dapat bersifat aktual, resiko, sindrom, kemungkinan dan wellness. Menyusun diagnosis keperawatan hendaknya diurutkan menurut kebutuhan yang berlandaskabn hirarki Maslow (kecuali untuk kasus kegawat daruratan — menggunakan prioritas berdasarkan “yang mengancam jiwa”) :
a. Berdasarkan Hirarki Maslow : fisiologis, aman-nyaman-keselamatan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri
b. Griffith-Kenney Christensen : ancaman kehidupan dan kesehatan, sumber daya dan dana yang tersedia, peran serta klien, dan prinsip ilmiah dan praktik keperawatan.
MASALAH KOLABORATIF
Masalah kolaboratif adalah masalah yang nyata atau resiko yang mungkin terjadi akibat komplikasi dari penyakit atau dari pemeriksaan atau akibat pengobatan, yang mana masalah tersebut hanya bisa dicegah, diatasi, atau dikurangi dengan tindakan keperawatan yang bersifat kolaboratif. Label yang digunakan adalah : Potensial Komplikasi (PK).
MENCEGAH KESALAHAN DALAM MEMBUAT DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Tidak menggunakan istilah medis. Jika harus, hanya sebatas memperjelas, dengan diberi pernyataan `sekunder terhadap`.
contoh : mastektomi b.d kanker
2. Tidak merumuskan diagnosis keperawatan sebagai suatu diagnosa medis
contoh : Resiko pneumonia
3. Jangan merumuskan diagnosis keperawatan sebagai suatu intervensi keperawatan
contoh: Menggunakan pispot sesering mungkin b.d dorongan ingin berkemih
4. Jangan menggunakan istilah yang tidak jelas. Gunakan istilah / pernyataan yang lebih spesifik.
contoh : Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b.d kesulitan bernafas
5. Jangan menulis diagnosis keperawatan yang mengulangi instruksi dokter
contoh : Instruksi untuk puasa
6. Jangan merumuskan dua masalah pada saat yang sama
contoh : Nyeri dan takut b.d prosedur operasi
7. Jangan menghubungkan masalah dengan situasi yang tidak dapat diubah
contoh : Resiko cedera b.d kebutaan
8. Jangan menuliskan etiologi atau tanda/gejala untuk masalah
contoh : Kongesti paru b.d tirah baring lama
9. Jangan membuat asumsi
contoh : Resiko perubahan peran b.d tidak berpengalaman menjadi ibu baru.
10. Jangan menulis pernyataan yang tidak bijaksana secara hukum
contoh : Kerusakan integritas kulit b.d posisi klien tidak diubah setiap 2 jam.
DOKUMENTASI DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Gunakan format PES untuk semua masalah aktual dan PE untuk masalah resiko
2. Catat diagnosis keperawtaan resiko ke dalam format diagnosis keperawatan
3. Gunakan istilah diagnosis keperawatan yang ada dalam NANDA; terbaru 2007–2008
4. Mulai pernyataan diagnosis keperawatan dengan mengidentifikasi informasi tentang data untuk diagnosis keperawatan
5. Masukkan pernyataan diagnosis keperawatan ke dalam daftar masalah
6. Hubungkan setiap diagnosis keperawatan ketika menemuan masalah perawatan
7. Gunakan diagnosis keperawatan sebagai pedoman untuk pengkajian, perencanaan, intervensi dan evaluasi.
Tujuan Dokumentasi Diagnosis Keperawatan :
1. Mengkomunikasikan masalah klien pada tim kesehatan
2. Mendemonstrasikan tanggung jawab dalam identifikasi masalah klien
3. Mengidentifikasi masalah utama untuk perkembangan intervensi keperawatan.
Diagnosis keperawatan saat ini dapat mengacu ke NANDA 2007-2008 dengan beberapa revisi diagnosis, contohnya:
“Gangguan pola tidur” (2005-2006) menjadi “Insomnia” (2007-2008).
Selain itu terdapat juga diagnosis keperawatan yang baru, diantaranya untuk peningkatan gula darah.
V. PERENCANAAN
Setelah diagnosa keperawatan dirumuskan, maka untuk membuat formulasi rencana tindakan keperawatan ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan :
1. Menentukan perioritas berdasarkan diagnosa keperawatan
2. Menentukan kriteria hasil (tujuan jangka panjang dan jangka pendek)
3. Menentukan rencana tindakan dan
4. Didokumentasikan.
Rencana keperawatan merupakan suatu petunjuk yang merumuskan tentang kegiatan keperawatan yang ditulis secara mandiri oleh perawat. Meskipun perawat tetap terlibat dalam peran kolaborasi, pemberian pengobatan yang diprogramkan oleh dokter.
Beberapa faktor yang menentukan perioritas masalah keperawatan (Griffith-Kenney dan Christensen, 1986) antara lain :
1. Ancaman kehidupan dan kesehatan
2. Sumber daya dan dana yang tersedia
3. Peran serta klien
4. Prinsip ilmiah dan praktek keperawatan yang mempengaruhi penentuan perioritas diagnosa keperawatan.
Setelah menentukan diagnosa keperawatan yang diperioritaskan, ditetapkanlah tujuan jangka panjang untuk mengatasi masalah secara umum dan jangka pendek untuk mencapai tujuan jangka panjang. Karakteristik penulisan tujuan adalah uraian tentang penampilan, situasi, sesuai dengan sandar yang ada dan adanya target waktu. Penampilan merupakan suatu aktivitas yang dilakukan klien dan biasanya dapat diobservasi. Tujuan yang ditetapkan haruslah dapat diukur dan dapat mengerahkan intervensi keperawatan.
Rencana tindakan keperawatan, adalah merupakan kegiatan akhir dari perencanaan. Strategi yang digunakan antara lain pendidikan kesehatan, pemecahan masalah, pemakaian diri secara terapiutik, dan penerapan prinsip praktek keperawatan dan harus memnggambarkan fungsi mandiri perawat profesional, sesuai dengan sumber praktek keperawatan yang ditetapkan.
Contoh :
Diagnosa : Potensial terjadi infeksi pasca operasi sehubungan dengan adanya luka insisi kulit dan jaringan.
Tujuan Jangka Panjang : Setelah satu minggu pasca operasi tidak terjadi infeksi pada luka operasi.
Tujuan Jangka Pendek : – Tanda-tanda infeksi tidak terlihat ( kemerahan, bengkak, nyeri, panas dan kehilangan fungsi ).
– Proses penyembuha optimal (tampak jaringa granulasi, waktu penyembuhan sesaui).
Rencana Tindakan : – Lakukan teknik aseptik dan antiseptik sebelum dan pada saat serta sesudah melakukan tindakan keperawatan
– Lakukan penggantian balutan sesuai standar
– Observasi proses penyembuhan
– Jelaskan tentang cara perawatan luka
Catatan : Didalam penulisan rencana perlu diperhatikan pedoman sebagai berikut :
1. Diberi tanggal dan ditanda tangani oleh perawat yang bertanggung jawab
2. Sesuai dengan tujuan yang akan dicapai
3. Diungkapkan dalam bentuk spesifik dan dapat memberi petunjuk pada perawat dan klien
4. Mencakup upaya pencegahan, peningkatan dan rehabilitasi
5. Mencakup kegiatan kolaborasi dan koordinasi
6. Disusun berdasarka perioritas
7. Mencakup otonomi dan individualitas klien
8. Mengikuti perkembangan keperawatan
9. Mencakup masa depan klien
IV. IMPLEMENTASI :
Implementasi yang dilakukan sesuai dengan petunjuk berikut :
1. Tindakan keperawatan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah divalidasi.
2. Menggunakan keterampilan interpersonal, intelektual dan teknikal yang dilakukan secara efektif dan efisien.
3. Tindakan yang dilakukan dan respon klien harus didokumentasikan.
4. Keamanan fisik dan psikologi perlu dilindungi. Hal ini menentukan keberhasilan rencana tindakan keperawatan.
Contoh : Sesuai dengan contoh diatas maka implementasi keperawatan yang diulakukan adalah sebagai berikut :
1. Melakukan teknik aseptik dan antiseptik sebelum dan pada saat, serta sesudah melakukan tindakan keperawatan (mencunci tangan)
2. Melakukan penggantian balutan sesuai standar/ketentuan
3. Mengobservasi proses penyembuhan
4. Menjelaskan tentang cara perawatan luka
Setelah tindakan keperawatan dilakukan, maka dicatat semua respon klien dan secara lisan/tertulis dapat disampaikan kepada tim keperawatan dan tim kesehatan lain.
Elemen yang dieveluasi pada tahap pelaksanaan :
1. Respon klien
2. Respon staf
3. Pencapaian hasil
4. Kecermatan dan keabsahan
5. Alternatif dan tindakan yang dilakukan
V. EVALUASI
Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang merupakan aktifitas yang dilakukan berkesinambungan dari tahap awal (pengkajian) sampai tahap akhir (evaluasi) dan melibatkan klien / keluarga. Evaluasi bertujuan untuk menilai efektifitas rencana dan strategi asuhan keperawatan yang dilakukan.
Evaluasi terdiri dari :
1. Evaluasi proses, untuk menilai apakan prosedur dilakukan sesuai dengan rencana, benar atau tidak, misalnya apakah sebelum melakukan tindakan keperawatan menjelaskan prosedur tindakan tersebut kepeda klien.
2. Evaluasi hasil, berfokus kepada perubahan perilaku dan keadaan kesehatan klien sebagai hasil tindakan keperawatan. Misalnya klien bebas dari tanda-tanda infeksi.
Sesuai dengan contoh sebelumnya, maka eveluasi yang dilakukan terhadap klien dengan pasca operasi tersebut adalah :
Luka operasi sembuh secara optimal dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi.
KESIMPULAN
Penggunaan proses keperawatan secara tepat dan cermat dalam asuhan keperawatan akan memberikan manfaat atau keuntungan pada klien/keluarga dan perawat serta tim kesehatan lain. Dengan penerapan proses keperawatan diharapkan kualitas pelayanan keperawatan dapat ditingkatkan dan juga dapat digunakan untuk menilai apakah standar praktek keperawatan yang telah ditetapkan dapat dipergunaka sebagaimana mestinya. Selain itu proses keperawatan juga merupakan alat untuk melakukan asuhan keperawatan yang profesional.
DAFTAR PUSTAKA
1. Carpenito, I. J. 1992. Nursing Diagnosis : Application to Clinical Practise 4¬ th. ed, Philadelphia. J.B. Lippincott Company.
2. Tim Departemen Kesehatan. 1993, Standar Asuhan Keperawatan, Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
3. ________________ 1991. Pedoman Penerapan Proses Keperawatan Di Rumah Sakit. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
4. Griffith – Kenney, J.W., & Christensen, P.J. Nursing Process : Application of Theories, Frameworks and Model. St. Louis : The. C.V. Mosby Company.
5. Nursalam. 2001. Proses & Dokumentasi Keperawatan : Konsep & Praktek. Jakarta. Salemba Medika.
6. Varcarolis. 1990. Foundation of Psyciatric- Mental Health Nursing. Philadelphia. J.B Lippincott Co.
7. Zeigler, S.M. Vaughan – Wrobel, & Erlen, J.A. 1986. Nursing Process, Nursing Diagnosis, Nursing Knowledge. Notwalk . Appleton – Country – Crifts.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar