Kamis, 25 September 2014
DAFTAR DIAGNOSA NOMENKLATUR KEBIDANAN
1. Persalinan Normal
persalinan normal adalah melalui vagina dan mengalami kontraksi. Proses persalinan normal juga ada yang perlu dibantu misalnya dengan induksi atau rangsangan/stimulasi agar tanda persalinan muncul.
2. Partus Normal
partus normal adalah bayi lahir melalui vagina dengan letak belakang kepala / ubun-ubun kecil, tanpa menggunakan alat / pertolongan istimewa, serta tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi), dan proses persalinan berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.
3. Syok
Syok adalah kondisi kritis akibat penurunan mendadak dalam aliran darah yang melalui tubuh. Ada kegagalan sistem peredaran darah untuk mempertahankan aliran darah yang memadai sehingga pengiriman oksigen dan nutrisi ke organ vital terhambat. Kondisi ini juga mengganggu ginjal sehingga membatasi pembuangan llimbah dari tubuh.
4. DJJ tidak normal
5. Abortus
Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia,tampa mempersoalkan penyebabnya,dimana kandungan seorang perempuan hamil dengan spontan gugur.
6. Solusio Placentae
Solusio plasenta atau disebut juga abruptio placenta atau ablasio placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu ke janin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat. Hebatnya perdarahan tergantung pada luasnya area plasenta yang terlepas.
7. Akut Pyelonephritis
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang sifatnya akut maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka dapat menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan pielonefritis kronis.
8. Amnionitis
9. Anemia Berat
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002). Seorang ibu hamil dapat dikategorikan enemia berat jika Hb < 7 gr%.
10. Apendiksitis
Apendiksitis adalah radang apendiks, suatu tambahan seperti kantung yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah abstruksi lumen oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi(Wilson&Goldman,1989).
11. Atonia Uteri
· Atonia uteri (relaksasi otot uterus) adalah uteri tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri(plasenta telah lahir).
· Atonia uteri adalah kegagalan serabut-serabut otot myometrium uterus untuk berkontraksi dan memendek.
· Atonia Uteri adalah suatu kondisi dimana Myometrium tidak dapat berkontraksi dan bila ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya plasenta menjadi tidak terkendali. (Apri, 2007).
12. Infeksi Mammae
Infeksi Mammae adalah stafilokokus aureus yang masuk melalui luka puting susu
13. Pembengkakan Mamae
Payudara bengkak adalah kondisi ketika payudara menjadi keras dan terasa sakit pada Moms yang baru saja melahirkan atau tengah dalam masa menyusui.
14. Presentasi Bokong
Presentasi bokong yaitu dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu (memanjang), kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah vakum uteri atau di daerah pintu atas panggul/simfisis.
15. Asma Bronchiale
Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respontrachea dan bronkhus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secaraspontan maupun hasil dari pengobatan.
16. Presentasi Dagu
Pada presentasi bahu, titiknya adalah tulang belikat.
Bila dagu berada di belakang, berikan kesempatan kepada dagu untuk memutar ke depan. Pada posisi mentoposterior persisten, usahakan untuk memutar dagu ke depan dengan satu tangan yang dimasukkan ke dalam vagina.
17. Disproporsi Sevalo Pelvik
Disproporsi sefalopelvik adalah keadaan yang menggambarkan ketidaksesuaian antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina. Disproporsi sefalopelvik disebabkan oleh panggul sempit, janin yang besar ataupun kombinasi keduanya.
18. Hipertensi Kronik
Hipertensi kronis adalah hipertensi yang dideteksi sebelum usia kehamilan 20 minggu
(Pelayanan Kesehatan Maternal dan Noenatal, 2002)
Hipertensi kronis jika tekanan darah sebelum kehamilan 20 minggu tidak diketahui, sulit membedakan antara preeklamsia dan hipertensi kronik, dalam hal demikian, tangani sebagai hipertensi karena kehamilan
19. Koagilopati
20. Presentasi Ganda
Presentasi ganda ialah keadaan dimana di samping bagian terendah janin teraba anggota badan, antara lain dijumpai tangan, lengan atau kaki, atau keadaan dimana di samping bokong janin dijumpai tangan.
21. Cystitis
Cystitis adalah peradangan pada kandung kemih. Kondisi ini lebih sering mempengaruhi wanita, tetapi dapat mempengaruhi baik jenis kelamin dan semua kelompok umur.
22. Eklampsia
Eklampsia adalah komplikasi akut dan mengancam nyawa kehamilan, ditandai dengan munculnya tonik-klonik, biasanya pada pasien yang telah mengembangkan preeklamsia.
23. Kelainan Ektopik
24. Ensephalitis
Encephalitis adalah infeksi jaringan atas oleh berbagai macam mikroorganisme (Ilmu Kesehatan Anak, 1985).
25. Epilepsi
Epilepsi adalah kelainan yang disebabkan oleh terbentuknya sinyal listrik di dalam otak yang menyebabkan timbulnya kejang berulang.
26. Hidramnion
Hidramnion adalah kelebihan cairan ketuban.
27. Presentasi Muka
Presentasi muka ialah keadaan di mana kepala dalam kedudukan defleksimaksimal sehingga oksiput tertekan pada punggung dan muka merupakan bagian terendah menghadap ke bawah.
28. Persalinan Semu
29. Kematian Janin
30. Hemorargik Antepartum
Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada perdarahan kehamilan sebelum 28 minggu (Mochtar, R, 1998).
31. Hemorargik Postpartum
Perdarahan postpartum adalah perdarahan pervaginam 500 cc atau lebih setelah kala III selesai (setelah plasenta lahir) (Wiknjosastro, 2000).
32. Gagal Jantung
33. Inertia Uteri
Inersia uteri adalah kelainan his yang kekuatannya tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong janin keluar. (Prof. Dr. Rustam mochtar, MPH, sinopsis obstetri, 305)
34. Infeksi Luka
35. Invertio Uteri
Inversio uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masuk kedalam kavum uteri.
36. Bayi Besar
37. Malaria Berat Dengan Komplikasi
38. Malaria Ringan Dengan Komplikasi
39. Mekonium
Mekonium adalah feses (tinja) pertama bayi yang baru lahir, yang kental, lengket, dan berwarna hitam kehijauan. Mekonium terbuat dari cairan ketuban, lendir, lanugo (rambut halus yang menutupi tubuh bayi), empedu, dan sel-sel yang berasal dari kulit dan saluran usus. Feses bayi biasanya berubah dari mekonium ke tinja kuning kehijauan dalam 4 – 5 hari.
40. Meningitis
Meningitis adalah radang selaput pelindung sistem saraf pusat. Penyakit ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme, luka fisik, kanker, atau obat-obatan tertentu. Meningitis adalah penyakit serius karena letaknya dekat otak dan tulang belakang, sehingga dapat menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan kematian.
41. Metritis
Metritis adalah radang miometrium. Mimetritis akut biasanya terdapat pada abortus septic atau infeksi post partum. Metritis adalah infeksi post partum. Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan yang merupakan salah satu penyebab terbesar kematian ibu. Penyakit ini tidak berdiri merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas.
42. Migrain
43. Kehamilan Mola
Kehamilan mola merupakan komplikasi dan penyulit kehamilan pada trimester satu. Hasil konsepsi pada kehamilan mola tidak berkembang menjadi embrio setelah pembuahan tetapi terjadi villi koriales disertai dengan degenerasi hidropik. Rahim menjadi lunak dan berkembang lebih cepat dari usia kehamilan yang normal, tidak dijumpai adanya janin, dan rongga rahim hanya terisi oleh jaringan seperti buah anggur. Kehamilan mola hidatidosa disebut juga dengan kehamilan anggur.
44. Kehamilan Ganda
· Kehamilan ganda (multifetus) adalah kehamilan yang terdiri dari dua janin atau lebih. Kehamilan ganda dapat menghasilkan anak kembar dua kembar tiga (triplet kembar empat (quadruplet), kembar lima (quintriplet), dan kembar enam (sextuplet). Hamil kembar tentunya menjadi keajaiban. Butuh perlakuan ekstra terhadap tubuh ibu dan janinnya, sejalan dengan perubahan dan kebutuhan yang jelas berbeda dibandingkan kehamilan biasa.
· Mengandung bayi kembar merupakan berita besar bagi seorang ibu. Kehamilan kembar memang tidak pernah bisa diduga, ada yang berasumsi bahwa seorang ibu bisa memiliki bayi kembar karena keturunan, tetapi hal tersebut juga masih belum bisa dipastikan.
45. Partus Macet
Partus macet adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi ibu maupun janin (anak).
Partus macet adalah persalinan dengan tidak ada penurunan kepala > 1 jam untuk nulipara dan multipara. (Sarwono, 2008)
46. Posisi Occiput Posterior
Posisi belakang kepala oksiput posterior menetap adalah ubun-ubun kecil menetap di belakang karena tidak ke depan ketika mencapai dasar panggul. Kepala janin akan lahir dalam keadaan muka di bawah simfisis pubis.
47. Posisi Occiput Melintang
48. Kista Ovarium
Kista ovarium adalah kantung kecil berisi cairan yang berkembang dalam ovarium (indung telur) wanita. Kebanyakan kista tidak berbahaya. Namun, beberapa dapat menimbulkan masalah, mulai dari nyeri haid, kista pecah, perdarahan, hingga penyakit serius, seperti: terlilitnya batang ovarium, gangguan kehamilan, infertilitas hingga kanker endometrium.
49. Abses Pelvix
Penyakit radang panggul adalah infeksi saluran reproduksi bagian atas. Penyakit tersebut dapat mempengaruhi endometrium (selaput dalam rahim), saluran tuba, indung telur, miometrium (otot rahim), parametrium dan rongga panggul. Penyakit radang panggul merupakan komplikasi umum dari Penyakit Menular Seksual (PMS).
50. Peritonitis
Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). Peradangan ini merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis, salpingitis, perforasi ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna, komplikasi pascaoperasi, iritasi kimiawi, atau dari luka tembus abdomen.
Pada keadaan normal, peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri secara inokulasi kecil-kecilan. Kontaminasi yang terus menerus, bakteri yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing atau enzim pencernaan aktif merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya peritonitis.
51. Placenta Previa
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi atau tertanam pada segmen bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh ostium utri internum. Angka kejadian plasenta previa adala 0,4 -0,6 % dari keseluruhan persalinan. Pada awal kehamilan, plasenta mulai terbentuk, berbentuk bundar, berupa organ datar yang bertanggung jawab menyediakan oksigen dan nutrisi untuk pertumbuhan bayi dan membuang produk sampah dari darah bayi. Plasenta melekat pada dinding uterus dan pada tali pusat bayi, yang membentuk hubungan penting antara ibu dan bayi.
52. Pneumonia
Pneumonia adalah proses inflamasi parenkim paru yang terdapat konsolidasi dan terjadi pengisian rongga alveoli oleh eksudat yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing. Pneumonia juga mungkin disebabkan oleh terapi radiasi untuk kanker payudara atau paru, biasanya terjadi selama 6 minggu atau lebih setelah pengobatan selesai.
53. Pre-Eklampsia Ringan/Berat
· Pre eklampsia ringan adalah sindrom spesifik kehamilan dengan penurunan perfusi pada organ-organ akibat vasospasme dan aktivasi endothel.
· Preeklampsi berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan atau disertai udema pada kehamilan 20 minggu atau lebih
54. Hipertensi Karena Kehamilan
hipertensi atau tekanan darah tinggi yang menimpa ibu hamil akan sangat membahayakan baik kehamilan itu sendiri maupun bagi ibu. hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi ketika darah yang dipompakan oleh jantung mengalami peningkatan tekanan, hingga hal ini dapat membuat adanaya tekanan dan merusak dinding arteri di pembuluh darah. Seseorang dikatakan mengalami hipertensi jika tekanan darahnya di atas 140/90 mmHG (berarti 140 mmHg tekanan sistolik dan 90 mmHg tekanan diastolik). Hipertensi pada kehamilan banyak terjadi pada usia ibu hamil di bawah 20 tahun atau di atas 40, kehamilan dengan bayi kembar, atau terjadi pada ibu hamil dengan kehamilan pertama.
55. Ketuban Pecah Dini
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum inpartus yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multipara < 5 cm. Air ketuban, atau cairan amnion, adalah cairan yang terdapat dalam ruangan yang diliputi selaput janin.
56. Partus Prematurus
Partus prematurus yaitu persalinan yang terjadi pada kehamilan 37 minggu atau kurang, merupakan hal yang berbahaya karena mempunyai dampak yang potensial meningkatkan kematian perinatal.
57. Prolapsus Tali Pusat
Prolapsus tali pusat adalah tali pusat dijalan lahir dibawah presentasi janin setelah ketuban pecah. Prolapsus tali pusat merupakan salah satu kasus kegawatdaruratan dalam bidang obstetri karena insidensi kematian perinatal tinggi.
58. Partus Fase Laten Lama
Partus lama adalah fase laten lebih dari 8 jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih, bayi belum lahir. Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan aktif
59. Partus Kala II Lama
60. Sisa Plasenta
sisa plasenta adalah sisa plasenta dan selaput ketuban yang masih tertinggal dalam rongga rahim yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum dini dan perdarahan postpartum lambat
Tertinggalnya sebagian plasenta sewaktu suatu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Tetapi mungkin saja pada beberapa keadaan tidak ada perdarahan dengan sisa plasenta.
61. Retensio Plasenta
Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah kelahiran bayi, atau 1 -2 jam post partum tanpa perdarahan yang berlebihan jika home birth Plasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan bahaya perdarahan dan infeksi. Panjang rata-rata waktu untuk kelahiran plasenta normal dalam homebirth saat menyusui bayi yang baru lahir pada persalinan berkisar dari 15 menit hingga 45 menit.
62. Ruptura Uteri
Ruptura uteri adalah robekan atau diskontinuitas dinding rahim akibat dilampauinya daya regang miomentrium. Penyebabnya adalah disproporsi jani dan panggul, partus macet atau traumatik.
63. Bekas Luka Uteri
64. Presentase Bahu
Presentasi bahu adalah ketika bahu, lengan atau tangan keluar pertama pada saat partus. Jenis presentasi ini jarang terjadi, kurang dari 1% kasus dan lebih umum pada kelahiran prematur atau kehamilan kembar.
65. Distosia Bahu
Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala janin dilahirkan.
66. Robekan Serviks dan Vagina
Robekan jalan lahir adalah terpotongnya selaput lendir vagina, cincin selaput dara, serviks, portio septum rektovaginalis akibat dari tekanan benda tumpul
67. Tetanus
68. Letak Lintang
Letak lintang adalah suatu keadaan di mana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain.
Rabu, 24 September 2014
PROSES KEPERAWATAN DAN PENERAPANNYA DALAM
PRAKTEK KEPERAWATAN
PENDAHULUAN
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit di dalam seluruh siklus hidup manusia.
Pelayanan keperawatan yang diberikan berupa bantuan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kegiatan tersebut dilakukan dalam upaya peningkatan kesehatan dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan utama sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab serta etika profesi keperawatan.
Sebagai profesi yang mandiri, keperawatan perlu ditempatkan sejajar dengan profesi lain. Oleh karena itu, keperawatan harus terus menerus mengembangkan ilmunya dan menetapkan standar untuk mengontrol dan mengarahkan praktek keperawatan. Dengan meningkatnya otonomi, keperawatan akan turut menentukan kualitas pelayanan kesehatan yang diterima klien.
Dengan demikian keperawatan sebagai suatu profesi haruslah dilandasi oleh kelompok ilmu pengetahuan, menggunakan berbagai metode pendekatan antara lain proses keperawatan sebagai salah satu metode pemberian asuhan keperawatan pada klien dipakai untuk membantu perawat melakukan praktek keperawatan secara sistematis dan ilmiah. Selain itu, melalui penerapan proses keperawatan, perawat mendemontrasikan tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap klien, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya keperawatan.
KONSEP PROSES KEPERAWATAN
Ilmu keperawatan didasarkan pada suatu teori yang sangat luas. Proses Keperaatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving (pemecahan masalah) yang memerlukan ilmu, teknik, keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien/keluarga. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang sequensial dan berhubungan; pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan eveluasi (Iyer dkk., 1996). Tahap-tahap tersebut berintegrasi terhadap fungsi intelektual problem solving dalam mendefinikan suatu tindakan keperawatan.
DEFINISI PROSES KEPERAWATAN
Sekarang hampir semua buku tentang keperawatan selalu mencantumkan proses keperawatan yang digunakan sebagai kerangka kerja, dasar, pengantar dari kajian ilmu keperawatan. Dengan berkembangnya waktu, proses keperawatan telah dianggap sebagai suatu dasar hukum praktek keperawatan . Menurut Yura dan Walsh (1983) proses keperawatan adalah suatu metode sistematis dan ilmiah yang digunakan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien dalam mencapai atau mempertahankan keadaan bio-psiko-sosial dan spiritual yang optimal, melalui tahapan-tahapan; pengkajian, identifikasi diagnosa keperawatan, penentuan perencanaan keperawatan, melaksanakan tindakan keperawatan serta eveluasi. Sedangkan Griffith-Kenney dan Christensen (1986) mendefinisikan proses keperawatan sebagai aktivitas yang logis dan rasional untuk melakukan praktek keperawatan secara sitematis dengan menggunakan pengetahuan yang komprehensif untuk mengkaji status kesehatan klien, merumuskan diagnosa keperawatan, menetapkan rencana, mengimplementasikan dan mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan.
Definisi dan tahapan proses keperawatan telah digunakan sebagai dasar pengembangan standar praktek keperawatan, sebagai kriteria dalam program sertifikasi, sebagai definisi dan standar legal praktek keperawatan. Definisi proses keperawatan secara umum adalah dapat dibedakan menjadi tiga dimensi; (1) tujuan, (2) organisasi, (3) karakteristik. Tujuan proses keperawatan secara umum adalah untuk membuat suatu kerangka konsep berdasarkan kebutuhan individu dari klien, keluarga dan masyarakat dapat terpenuhi. Yura dan Walsh (1983) menyatakan proses keperawatan adalah suatu tahapan desain tindakan yang ditujukan untuk memenuhi tujuan keperawatan, yang meliputi; mempertahankan keadaan kesehatan klien yang optimal, apabila keadaan berubah membuat suatu jumlah dan kualitas tindakan keperawatan terhadap kondisinya guna kembali keadaan yang normal. Jika kesehatan yang optimal tidak dapat tercapai, proses keprawatan harus dapat mefasilitasi kualitas kehidupan yang maksimal berdasarkan keadaannya untuk mencapai derajat kehidupan yang lebih tinggi selama hidupnya (Iyer dkk., 1996). Organisasi, seperti yang dijabarkan sebelumnya, proses keperawatan dikelompokan menjadi liama tahap; pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Kelima tahap dalam proses keperawatan tersebut sebagai suatu organisasi yang mengatur pelaksanaan asuhan keperawatan berdasarkan suatu rangkaian pengelolaan yang sistematik dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien. Karakteristik proses keperawatan mempunyai enam karakteristik yang terdiri dari tujuan, sistimatik, dinamik, interaktif, fleksibel dan teoritis. Tujuan; proses keperawatan mempunyai tujuan yang jelas melalui suatu tahapan dalam meningkatkan kualitas asuhan keperawatan kepada klien. Sistematik; menggunakan suatu pendekatan yang terorganisir untuk mencapai suatu tujuan, hal ini memungkinkan untuk meningkatkan kualitas keperawatan dan menghindari masalah yang bertentangan dengan tujuan intuisi pelayanan kesehatan / keperawatan. Dinamik; proses keperawatan ditujukan dalam mengatasi masala-masalah kesehatan klien yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Proses keperawatan ditujukan pada suatu perubahan respon klien yang diidentifikasi melalui hubungan antara perawat dan klien. Interaktif; dasar hubungannya adalah hubungan timbal balik antar perawat, klien keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. Fleksibel; adalah suatu proses yang dapat dilihat dalam dua konteks; (1) dapat diadopsi pada praktek keperawatan dalam situasi apapun, spesialisasi yang berhubungan dengan individu, kelompok atau masyarakat dan (2) tahapannya bisa digunakan secara berurutan dan dengan persetujuan kedua belah pihak. Teoritis; setiap langak dalam proses keperawatan selalu didasarkan pada suatu ilmu yang luas, khususnya ilmu dan model keperawatan yang berlandaskan pada filosofi keperawatan, bahwa asuhan keperawatan kepada klien harus menekankan kepada tiga aspek; (1) humanistik; memandang dan memperlakukan klien sebagai manusia dan bahkan sebagai perawat, (2) holistik; intervensi keperawatan harus dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia secara utuh (bio-psiko-sosial-spiritual) dan (3) Care; asuhan keperawatan yang diberikan harus berlandaskan pada standar praktek dan etika keperawatan.
IMPLIKASI PROSES KEPERAWATAN
Penerapan proses keperawatan mempunyai implikasi atau dampak terhadap profesi keperawatan, klien dan perawat itu sendiri.
Implikasi Terhadap Profesi Keperawatan :
Secara profesional , proses keperawatan menyajikan suatu lingkup praktek keperawatan melalui lima langkah. Keperawatan secara terus menerus mendefinisikan peranannya kepada klien dan profesi kesehatan lainnya. Hal ini menunjukan bahwa keperawatan tidak hanya melaksanakan rencana. Praktek keperawatan mencakup standar praktek dan standar tersebut diadopsi dan diterbitkan oleh American Nurse’ Assocition (ANA, 1973). Perawat mempunyai tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar keperawatan tanpa melihat dimana dia bekerja dan spesialisasinya. Di Indonesia pelaksanaan standar praktek keperawatan juga telah diatur dalam peraturan pemerintah melalui Undang-undang Kesehatan di Indonesia (Depkes, 1992) dan diberlaukannya PERMENKES No. 647 / 2000 dan dirvisi dengan PERMENKES No. /2001 yang mengatur tentang praktik keperawatan di Indonesia.
Implikasi Terhadap Klien :
Penggunaan proses keperawatan sangat bermanfaat bagi klien dan keluarga. Kegiatan ini mendorong mereka untuk berpartisipasi secara aktif dalam keperawatan dengan melibatkan mereka ke dalam lima langkah proses. Klien menyediakan sumber untuk pengkajian, validasi diagnosa keperawatan dan menyediakan umpan balik untuk evaluasi. Perencanaan keperawatan yang tersusun dengan baik, akan memungkinkan perawat dapat memberikan pelayanan keperawatan secara kontinyu, aman, dan terciptanya lingkungan yang terapiutik. Keadaan tersebut akan membantu mempercepat kesembuhan klien dan memungkinkan klien dapat beradaptasi terhadap lingkungan yang ada.
Implikasi Terhadap Perawat :
Proses keperawatan akan meningkatkan kepuasan dalam bekerja dan meningkatkan perkembangan profesionalisasi. Peningkatan hubungan antara perawat dengan klien dapat dilakukan melalui penerapan proses keperawatan. Proses keperawatan memungkinkan suatu pengembangan dan kreatifitas dalam menjelaskan masalah klien. Hal ini akan mencegah dalam pekerjaan yang bersifat rutinitas, kejenuhan perawat dan task-oriented approach.
FUNGSI PROSES KEPERAWATAN
Berdasar uraian uraian diatas maka dapat dirumuskan beberapa fungsi dari proses keperawatan :
1. Proses keperawatan merupakan metode / pendekatan yang digunakan dalam pemberian asuhan keperawatan, yakni digunakan sebagai landasan berfikir ilmiah untuk melaksanakan fungsi dan tanggung jawab keperawatan secara mandiri.
2. Proses keperawatan adalah sebagai alat untuk membantu terlaksananya praktek keperawatan yang sistematis dan ilmiah untuk memenuhi kebutuhan klien mencapai dan mempertahankan keadaan bio-psiko-sosial dan spiritual yang optimal melalui tahapan-tahapannya. Dengan demikian proses keperawatan sangat relevan dengan pengembangan profesionalisme keperawatan yang pada akhirnya akan meningkatkan pelayanan keperawatan.
3. Proses keperawatan dapat digunakan pada semua bentuk penugasan dalam keperawatan, tetapi lebih bermakna apabila digunakan pada metode penugasan primer, dimana pelayanan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan klien (individu/keluarga/masyarakat).
TAHAP – TAHAP PROSES KEPERAWATAN
Melalui proses keperawatan, perawat dapat menerapkan pengetahuan yang komprehensif untuk mengkaji status kesehatan klien, mengidentifikasi masalah atau diagnosa keperawatan, merencanakan intervensi, mengimplementasikan dan mengevaluasi intervensi yang telah dilakukan. Proses keperawatan merupakan pendekatan yang sistematis dan ilmiah dalam praktek keperawatan, dimana kelima komponennya saling berinteraksi satu dan yang lain, seperti ditunjukan pada diagram dibawah ini :
Tahap 2 Tahap 3 Tahap 4
DIAGNOSA PERENCANAAN IMPLEMENTASI
– Pengorganisasian data – Menetapkan tujuan – Validasi dan
– Perioritas masalah – Merumuskan tindakan penetapan rencana
– Formulasi Diagnosa keperawatan.
Tahap 1 Tahap 5
PENGKAJIAN EVALUASI
– Pengumpulan data – Evaluasi proses dan
– Validasi data hasil
– Modifikasi
Diagram I. Komponen Proses Keperawatan ( Varcarolis, 1990)
I. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap pertama proses keperawatan dimana pengumpulan data dilakukan secara sistematis untuk menentukan status kesehatan klien saat ini, mengidentifikasi pola koping klien yang lalu dan saat ini (Iyer dkk., 1996). Pengkajian harus dilakukan menyeluruh terhadap aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pada kenyataannya perawat lebih mengutamakan data biologis/fisik, sedangkan data psikologis, sosial dan spiritual seringkali kurang diperhatikan. Oleh karena itu pengkajian yang akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan diagnosa keperawatan sesuai dengan respon individu, sebagaimana yang telah ditentukan dalam standar keperawatan dari ANA (American Nursing Association).
Data yang dikumpulkan berguna untuk aktivitas atau tindakan keperawatan yang dibutuhkan klien dan juga sebagai sumber data bagi profesi lain, karena pertukaran data antar profesi sangat penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan.
Pengumpulan data difokuskan untuk mengidentifikasi :
1. Status kesehatan klien
2. Pola pertahanan/koping yang biasa digunakan
3. Respon klien terhadap pengobatan / terapi
4. Faktor resiko yang menyebabkan timbulnya masalah
5. Kebutuhan yang menimbulkan timbulnya masalah
6. Fungsi klien saat ini.
Pengkajian dilakukan melalui beberapa metode antara lain :
1. Wawancara terhadap riwayat kesehatan klien dan keluarga
2. Pemeriksaan fisik ( inspekasi, palpasi, perkusi dan auskultasi)
3. Observasi
4. Mengkaji catatan dan hasil pemeriksaan penunjang
5. Kerjasama dengan tim kesehatan lain.
Tipe data yang harus dikumpulkan yaitu :
1. Data subyektif, yaitu data yang tidak dapat diobservasi secara langsung dan tidak dapat diukur, misalnya nyeri, pusing dan sebagainya yang dikeluhkan/dirasakan oleh klien.
2. Data obyektif, yaitu data yang diperoleh berdasarkan observasi dan dapat diuji dengan standar yang berlaku, misalnya merah, bengkak, panas dan sebagainya.
Data harus dikumpulkan sesuai dengan format pengkajian yang telah ditetapkan. Setelah dapat dikumpulkan lalu disimpulkan, kemungkinan kesimpulan antara lain :
1. Tidak ada masalah, perlu pengecekan ulang secara berkala
2. Tidak ada masalah saat ini, tetapi memerlukan peningkatan kesehatan
3. Adanya masalah; aktual, dan non aktual
Elemen yang akan dievaluasi pada tahap pengkajian ini adalah :
1. Akurasi dan sistematika data
2. Kelengkapan data
3. Validasi data
4. Kualitas data
5. Alternatif pengumpulan data
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Capernito (2000) diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifiakasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan. Dan menurut Gordon (1976) mendefinisikan diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan potensil dimana perawat berdasarkan pendidikan dan penglamannya mampu dan mempunyai wewenang untuk memberikan tindakan keperawatan. Sedangkan menurut NANDA diagnosa keperawatan adalah kesimpulan klinis terhadap respon individu, keluarga dan masyarakat terhadap masalah kesehatan aktual dan potensial atau diagnosa keperawatan adalah merupakan dasar untuk menetapkan tindakan keperawatan dalam mencapai tujuan. Semua diagnosa keperawatan harus didukung oleh data, dimana menurut NANDA diartikan sebagai definisi karakteristik yang dinamakan tanda dan gejala. Tanda adalah sesuatu yang dapat diobservasi sedangkan gejala adalah sesuatu yang dirasakan oleh klien. Diagnosis Keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 & NANDA).
Diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosis keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi, dimana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat.
Dari definisi diatas jelaslah bahwa diagnosa keperawatan yang dirumuskan harus sesuai dengan kewenangan perawat. Komponen diagnosa keperawatan terdiri dari; problem, etiologi dan simtom (tanda dan gejala).
Perbedaan Diagnosa Keperawatan dan diagnosa Medis adalah seperti diuraikan pada tabel dibawah ini :
DIAGNOSA MEDIS DIAGNOSA KEPERAWATAN
* Fokus : Faktor – faktor pengobatan penyakit * Fokus : Reaksi / respon klien terhadap tindakan keperawatan / medis / lainnya
* Orientasi : Kepada patologi * Orientasi : Kebutuhan dasar manusia
* Cenderung tetap, mulai sakit sampai sembuh * Berubah sesuai perubahan respon klien
* Mengarah pada tindakan medis yang sebagian dilimpahkan kepeda perawat * Mengarah pada fungsi mandiri perawat dalam melaksanakan tindakan dan evaluasinya
* Diagnosa medis melengkapi diagnosa keperawatan * Diagnosa keperawatan melengkapi diagnosa medis
Contoh :
Cemas sedang sehubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur tindakan pembedahan yang ditandai dengan jantung berdebar-debar saat menggingat akan dilakukan tindakan pembedahan, ekspresi wajah tegang, keringat dingin, meremas-remas jari dan mengatakan tidak tahu tindakan yang dilakukan terhadap dirinya.
Tipe Diagnosa Keperawatan terdiri dari :
1. Aktual; diagnosa keperawatan yang menjelaskan masalah yang ada pada saat ini, sesuai dengan data klinik yang didapatkan. Menggambarkan peniliaian klinis karena masalah sudah timbul. Atau menurut (NANDA) adalah diagnosis yang menyajikan keadaan klinis yang telah divalidasikan melalui batasan karakteristik mayor yang diidentifikasi. Diagnosis keperawatan mempunyai empat komponen : label, definisi, batasan karakteristik, dan faktor yang berhubungan.
Label merupakan deskripsi tentang definisi diagnosis dan batasan karakteristik. Definisi menekankan pada kejelasan, arti yang tepat untuk diagnosa. Batasan karakteristik adalah karakteristik yang mengacu pada petunjuk klinis, tanda subjektif dan objektif. Batasan ini juga mengacu pada gejala yang ada dalam kelompok dan mengacu pada diagnosis keperawatan, yang teridiri dari batasan mayor dan minor. Faktor yang berhubungan merupakan etiologi atau faktor penunjang. Faktor ini dapat mempengaruhi perubahan status kesehatan. Faktor yang berhubungan terdiri dari empat komponen : patofisiologi, tindakan yang berhubungan, situasional, dan maturasional. Label yang digunakan: Gangguan, Perubahan, Kerusakan, Tidak efektif, Kekurangan, Kelebihan, Penurunan, Disfungsi, Peningkatan, Distress, Ketidakseimbangan, Intoleransi dan lain-lain
Contoh diagnosis keperawatan aktual : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan transport oksigen, sekunder terhadap tirah baring lama, ditandai dengan nafas pendek, frekuensi nafas 30 x/mnt, nadi 62/mnt-lemah, pucat, sianosis.
2. Risiko; menggambarkan penilaian klinis dimana individu/kelompok lebih rentan untuk mengalami masalah dibandingkan dengan orang lain dalam situasi yang sama atau serupa. Diagnosis keperawatan resiko adalah keputusan klinis tentang individu, keluarga atau komunitas yang sangat rentan untuk mengalami masalah dibanding individu atau kelompok lain pada situasi yang sama atau hampir sama.
Validasi untuk menunjang diagnosis resiko adalah faktor resiko yang memperlihatkan keadaan dimana kerentanan meningkat terhadap klien atau kelompok dan tidak menggunakan batasan karakteristik. Penulisan rumusan diagnosis ini adalag : PE (problem & etiologi). Label yang digunakan : Risiko, Risiko tinggi, Risiko terhadap
Contoh : Resiko penularan TB paru berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang resiko penularan TB Paru, ditandai dengan keluarga klien sering menanyakan penyakit klien itu apa dan tidak ada upaya dari keluarga untuk menghindari resiko penularan (membiarkan klien batuk dihadapannya tanpa menutup mulut dan hidung).
3. Diagnosis Keperawatan Kemungkinan; Merupakan pernyataan tentang masalah yang diduga masih memerlukan data tambahan dengan harapan masih diperlukan untuk memastikan adanya tanda dan gejala utama adanya faktor resiko. Pada keadaan ini masalah dan etiologi belum jelas, tetapi faktor yang dapat menimbulkan masalah sudah ada. Misalnya kemungkinan fungsi seksual terganggu sehubungan dengan dampak tindakan hysterectomy. Label yang digunakan Kemungkinan
Contoh : Kemungkinan gangguan konsep diri : gambaran diri berhubungan dengan tindakan mastektomi.
4. Diagnosis Keperawatan Sejahtera; Diagnosis keperawatan sejahtera adalah ketentuan klinis mengenai individu, kelompok, atau masyarakat dalam transisi dari tingkat kesehatan khusus ke tingkat kesehatan yang lebih baik. Cara pembuatan diagnsosis ini adalah dengan menggabungkan pernyataan fungsi positif dalam masing-masing pola kesehatan fungsional sebagai alat pengkajian yang disahkan. Dalam menentukan diagnosis keperawatan sejahtera, menunjukkan terjadinya peningkatan fungsi kesehatan menjadi fungsi yang positif.
Contoh, pasangan muda yang kemudian menjadi orangtua telah melaprkan fungsi positif dalam peran pola hubungan. Perawat dapat memakai informasi dan lahirnya bayi baru sebagai tambahan dalam unit keluarga, untuk membantu keluarga mempertahankan pola hubungan yang efektif. Contoh lain perilaku mencari bantuan kesehatan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang peran sebagai orangtua baru.
5. Sindrom; Adalah diagnosa keperawatan yang terdiri dari sekelompok diagnosa keperawatan aktual dan risiko tinggi yang diperkirakan ada karena situasi/peristiwa tertentu atau diduga akan muncul karena suatu kejadian atau situasi tertentu.. Label yang digunakan : Sindrom
Contoh : sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik.
Elemen yang perlu dievaluasi pada tahap kedua ini adalah :
1. Kesesuaian masalah dengan lingkup perawatan
2. Kejelasan masalah
3. Akuratnya masalah dan faktor penyebab (etiologi)
4. Validitas masalah
III. Komponen diagnosa : PES atau menimal PE ( P = Problem/masalah, E = Etiologi/ penyebab, S = Symtom = tanda/gejala).
Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses keperawatan, perumusan diagnosa keperawatan ini sangatlah vital untuk dilakukan. Pernahkan kita mendengar beberapa diagnosa keperawatan pada pasien. Hasil uji coba penulis terhadap beberapa perawat di 3 rumah sakit di kota Bandung dan Cimahi didapatkan adanya kesimpangsiuran dalam penulisan diagnosa keperawatan ini, bahkan hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh perawat pelaksana yang telah terbiasa dengan pola perilaku pekerjaan rutinitas sehari-hari, bahkan dosen yang mengajar proses keperawatanpun seringkali memberikan suatu masukan terhadap mahasiswa dengan menggunakan persepsi pribadinya yang pada akhirnya akan saling menyalahkan antara satu dosen dengan dosen lainnya ataupun perawat satu dengan lainnya terhadap frase dari diagnosa keperawatan tersebut. Percobaan yang dilakukan adalah dengan memberikan suatu soal kepada perawat tentang suatu kondisi pasien yaitu : klien mengeluh sesak, batuk, adanya sekret pada saluran nafas, ronchi (+), Wheezing (+), RR = 32 x/menit.
Lalu apa yang saya dapatkan….?
Perawat-perawat menjawab diagnosa tersebut sebagai berikut :
1. Gangguan rasa nyaman batuk
2. Gangguan pemenuhankebutuhan oksigenasi
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen dan karbondioksida
4. Sesak
5. Pemenuhan oksigen tidak terpenuhi
6. Gangguan pertukaran oksigen
7. Jalan nafas takefektif
8. dll
Begitu banyaknya diagnosa keperawatan yang muncul dan ketika didiskusikan ternyata para perawat tersebut saling menyalahkan terhadap diagnosa keperawatan yang tidak sesuai dengan apa yang mereka anut. Padahal jika kita merujuk kepada aspek profesionalisme, pastilah adanya suatu patokan terhadap diagnosa keperawatan yang muncul tersebut. Jika kita lihat kepada sumber maka diagnosa keperawatan yang benar untuk masalah di atas adalah “bersihan jalan nafas tak efektif”. Ternyata ada jawaban yang telah mendekati benar hanya saja jawaban tersebut tidak/kurang lengkap terhadap diagnosa keperawatan yang dianut oleh NANDA.
Sebenarnya NANDA adalah Singkatan dari North American Nursing Diagnosis Association (Asosiasi Diagnosa Keperawatan Amerika Utara). Meskipun singkatan NANDA lebih memaknakan sebuah organisasi, namun jangan terlihat tersurat, lebih menyimaknya secara tersirat.
NANDA secara internasional memiliki komitmen untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman keperawatan dalam membangun, menjabarkan, dan mengklasifikasi aspek keperawatan. Secara esensial NANDA mengembangkan, menjabarkan dan menyebarluaskan informasi Taksonomi Diagnosa Keperawatan yang secara umum digunakan oleh perawat profesional.Taksonomi ini merupakan konsep kerangka kerja dalam menentukan sebuah diagnosa keperawatan. Konsep dari diagnosa keperawatan sendiri adalah upaya keberhasilan pendekatan klinis keperawatan dan diagnosa keperawatan secara internasional dianggap penting dalam pendekatan sistem dan rencana keperawatan klien/pasien (Barnum, 1994)
IV. NANDA nomenklatur diagnosa keperawatan lebih melambangkan pengambilan keputusan tindakan klinis keperawatan tentang masalah kesehatan yang aktual atau potensial. Diagnosa Keperawatan NANDA menjelaskan tentang reaksi pasien terhadap penyakit atau trauma yang dapat diperbandingkan dengan kode ICD-9-CM(International Code of Diseases)/ diagnosa medis kedokteran, yang lebih menjelaskan penyakit atau trauma secara medis. NANDA saat ini berisi 167 diagnosa keperawatan yang telah disepakati dan terbagi dalam 9 domain (ranah). Setiap diagnosa terdiri dari label/judul, definisi, karakteristik umum dan khusus masing-masing definisi, dan faktor yang terkait.
Secara mudahnya NANDA adalah metode yang umum untuk menentukan dan mengmbangkan diagnosa keperawatan. Survey terbaru dari 43 Fakultas Keperawatan di Michigan, Amerika Serikat mengindikasikan bahwa penggunaan NANDA nomenklatur tetap konsisten tinggi di angka 91% (Keenan, 2001). Bahkan sebagian besar universitas mengajarkan NANDA nomenklatur dalam kurikulum mereka. Saat mengkaitkan dengan klasifikasi Intervensi keperawatan (nursing intervention classification – NIC) dan klasifikasi tujuan diagnosa keperawatan (nursing outcomes classification – NOC), semua dikembangkan di Universitas Keperawatan Iowa. Sehingga sangat membantu menjelaskan proses keperawatan secara utuh. Sejarah Pengembangan Nomenklatur Diagnosa Keperawatan NANDA Kebutuhan untuk menstandarisasi bahasa dalam medical records (rekam medik) adalah bukan hal yang baru. Hal ini lebih dalam upaya mendefinisikan peran perawat, konstribusi dan keunikkan body of knowledge keperawatan yang akhirnya mengarahkan pengembangan klasifikasi diagnosa keperawatan.
Pada tahun 1973 Kristine Gebbie dan Mary Ann Lavin pertama kalinya membuat kelompok kerja (task force) untuk memberi nama dan mengklasifikasi Diagnosa Keperawatan. Kemudian tim kerja yang diberi nama Task Force of the National Conference Group on the Classification of Nursing Diagnoses (Pokja Konferensi Nasional Klasifikasi Diagnosa Keperawatan). Pokja ini terbentuk di tahun 1974, dan di tahun 1982 NANDA menyusun Pokja Nasional yang beranggotakan Amerika Serikat dan Kanada.Di tahun 1986, The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) membuat sistem klasifikasi yang memberi judul dan membunyikan diagnosa keperawatan. Taksonomi ini awalnya hanya daftar diagnosa keperawatan yang tersusun secara alphabet, namun kemudian menjadi satu sistem panduan klasifikasi diagnosa keperawatan (taksonomi) di tahun 1987 dikenal dengan Taksonomi NANDA I, dan menjadi standar teksbook pendidikan perawat di Amerika Serikat dan diseluruh dunia. Taksonomi NANDA II yang terbaru terbit di tahun 2003-2004.
Taksonomi NANDA
Sebuah taksonomi berarti sebuah metode yang terorganisir dari beberapa kumpulan informasi. NANDA dengan mudahnya membuat kerangka kerja diagnosa keperawatan lebih mudah dipetakan dan terstandarisasi. NANDA adalah sebuah kode yang tediri dari 9 (NINE) ” Human Response Patterns” – sembilan pola respon tubuh manusia.
1. Exchanging
2. Communicating
3. Relating
4. Valuing
5. Choosing
6. Moving
7. Perceiving
8. Knowing
9. Feeling
Daftar Diagnosa keperawatan versi NANDA memasukkan unsur 3 masalah :
• Actual problems (Masalah Aktual)
• Risks for problems (Masalah Resiko)
• Welness Issues (Isu Sehat-sakit)
Dan setiap diagnosa keperawatan menyertakan selalu 4 komponen yang terpisah yaitu :
• Judul Diagnosa
• Definisi
• Karakteristik Umum dan Khusus tiap masalah
• Faktor Resiko/terkait
Sebagai contoh, diagnosa keperawatan “Nyeri” didefinisikan sebagai ” Suatu keadaan tidak nyaman dari sensoris dan melibatkan pengalaman emosional klien yang mungkin muncul akibat kerusakan jaringan tubuh (aktual/potensial); yang muncul sesaat/perlahan dalam intensitas ringan – berat, yang dapat diprediksi, dan dalam durasi kurang dari 6 bulan. Karakteristik umum termasuk keluhan secara verbal, adanya tanda, penggunaan “pain killer drugs”, perilaku protektif terhadap nyeri. Karakteristik khusus termasuk ” fokus terhadap diri, gangguan persepsi terhadap waktu, gangguan proses pikir, penurunan interaksi dengan lingkungan dan orang lain, perilaku distraksi. Faktor yang berhubungan dengan nyeri antara lain adanya trauma biologis, kimia, fisik, dan psikologis.
KOMPONEN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Rumusan diagnosis keperawatan mengandung tiga komponen utama, yaitu :
1. Problem (P/masalah), merupakan gambaran keadaan klien dimana tindakan Keperawatan dapat diberikan. Masalah adalah kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya tidak terjadi.
Tujuan : menjelaskan status kesehatan klien atau masalah kesehatan klien secara jelas dan sesingkat mungkin. Diagnosis keperawatan disusun dengan menggunakan standar yang telah disepakati (NANDA, Doengoes, Carpenito, Gordon, dll), supaya
a. Perawat dapat berkomunikasi dengan istilah yang dimengerti secara umum
b. Memfasilitasi dan mengakses diagnosa keperawatan
c. Sebagai metode untuk mengidentifikasi perbedaan masalah keperawatan dengan masalah medis
d. Meningkatkan kerjasama perawat dalam mendefinisikan diagnosis dari data pengkajian dan intervensi keperawatan, sehingga dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan.
2. Etiologi (E/penyebab), keadaan ini menunjukkan penyebab keadaan atau masalah kesehatan yang memberikan arah terhadap terapi keperawatan. Penyebabnya meliputi : perilaku, lingkungan, interaksi antara perilaku dan lingkungan.
Unsur-unsur dalam identifikasi etiologi :
a. Patofisiologi penyakit : adalah semua proses penyakit, akut atau kronis yang dapat menyebabkan / mendukung masalah.
b. Situasional : personal dan lingkungan (kurang pengetahuan, isolasi sosial, dll)
c. Medikasi (berhubungan dengan program pengobatan/perawatan) : keterbatasan institusi atau rumah sakit, sehingga tidak mampu memberikan perawatan.
d. Maturasional :
Adolesent : ketergantungan dalam kelompok
Young Adult : menikah, hamil, menjadi orang tua
Dewasa : tekanan karier, tanda-tanda pubertas.
3. Sign & symptom (S/tanda & gejala), adalah ciri, tanda atau gejala, yang merupakan informasi yang diperlukan untuk merumuskan diagnosis keperawatan. Jadi rumusan diagnosis keperawatan adalah : PE / PES.
PERSYARATAN PENYUSUNAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Perumusan harus jelas dan singkat dari respon klien terhadap situasi atau keadaan yang dihadapi
2. Spesifik dan akurat (pasti)
3. Dapat merupakan pernyataan dari penyebab
4. Memberikan arahan pada asuhan keperawatan
5. Dapat dilaksanakan oleh perawat.
6. Mencerminan keadaan kesehatan klien.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENENTUKAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Berorientasi kepada klien, keluarga dan masyarakat
2. Bersifat aktual atau potensial
3. Dapat diatasi dengan intervensi keperawatan
4. Menyatakan masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat, serta faktor faktor penyebab timbulnya masalah tersebut.
ALASAN PENULISAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif
2. Memberikan kesatuan bahasa dalam profesi keperawatan
3. Meningkatkan komunikasi antar sejawat dan profesi kesehatan lainnya
4. Membantu merumuskan hasil yang diharapkan / tujuan yang tepat dalam menjamin mutu asuhan keperawatan, sehingga pemilihan intervensi lebih akurat dan menjadi pedoman dalam melakukan evaluasi
5. Menciptakan standar praktik keperawatan
6. Memberikan dasar peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.
PROSES PENYUSUNAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Klasifikasi & Analisis Data
Pengelompokkan data adalah mengelompokkan data-data klien atau keadaan tertentu dimana klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria permasalahannya. Pengelmpkkan data dapat disusun berdasarkan pola respon manusia (taksonomi NANDA) dan/atau pola fungsi kesehatan (Gordon, 1982);
Respon Manusia (Taksonomi NANDA II) :
a. Pertukaran
b. Komunikasi
c. Berhubungan
d. Nilai-nilai
e. Pilihan
f. Bergerak
g. Penafsiran
h. Pengetahuan
i. Perasaan
Pola Fungsi Kesehatan (Gordon, 1982) :
a. Persepsi kesehatan : pola penatalaksanaan kesehatan
b. Nutrisi : pola metabolisme
c. Pola eliminasi
d. Aktivitas : pola latihan
e. Tidur : pola istirahat
f. Kognitif : pola perseptual
g. Persepsi diri : pola konsep diri
h. Peran : pola hubungan
i. Seksualitas : pola reproduktif
j. Koping : pola toleransi stress
k. Nilai : pola keyakinan
2. Mengindentifikasi masalah klien
Masalah klien merupakan keadaan atau situasi dimana klien perlu bantuan untuk mempertahankan atau meningkatkan status kesehatannya, atau meninggal dengan damai, yang dapat dilakukan oleh perawat sesuai dengan kemampuan dan wewenang yang dimilikinya Identifikasi masalah klien dibagi menjadi : pasien tidak bermasalah, pasien yang kemungkinan mempunyai masalah, pasien yang mempunyai masalah potensial sehingga kemungkinan besar mempunyai masalah dan pasien yang mempunyai masalah aktual.
a. Menentukan kelebihan klien
Apabila klien memenuhi standar kriteria kesehatan, perawat kemudian menyimpulkan bahwa klien memiliki kelebihan dalam hal tertentu. Kelebihan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan atau membantu memecahkan masalah yang klien hadapi.
b. Menentukan masalah klien
Jika klien tidak memenuhi standar kriteria, maka klien tersebut mengalami keterbatasan dalam aspek kesehatannya dan memerlukan pertolongan.
c. Menentukan masalah yang pernah dialami oleh klien
Pada tahap ini, penting untuk menentukan masalah potensial klien. Misalnya ditemukan adanya tanda-tanda infeksi pada luka klien, tetapi dari hasil test laboratorium, tidak menunjukkan adanya suatu kelainan. Sesuai dengan teori, maka akan timbul adanya infeksi. Perawat kemudian menyimpulkan bahwa daya tahan tubuh klien tidak mampu melawan infeksi.
d. Penentuan keputusan
– Tidak ada masalah, tetapi perlu peningkatan status dan fungsi (kesejahteraan) : tidak ada indikasi respon keperawatan, meningkatnya status kesehatan dan kebiasaan, serta danya inisiatif promosi kesehatan untuk memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga.
– Masalah kemungkinan (possible problem) : pola mengumpulkan data yang lengkap untuk memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga
– Masalah aktual, resiko, atau sindrom : tidak mampu merawat karena klien menolak masalah dan pengobatan, mulai untuk mendesain perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk mencegah, menurunkan, atau menyelesaikan masalah.
– Masalah kolaboratif : konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional yang ompeten dan bekerja secara kolaboratif pada masalah tersebut. Masalah kolaboratif adalah komplikasi fisiologis yang diakibatkan dari patofisiologi, berhubungan dengan pengobatan dan situasi yang lain. Tugas perawat adalah memonitor, untuk mendeteksi status klien dan kolaboratif dengan tenaga medis guna pengobatan yang tepat.
3. Memvalidasi diagnosis keperawatan
Adalah menghubungkan dengan klasifikasi gejala dan tanda-tanda yang kemudian merujuk kepada kelengkapan dan ketepatan data. Untuk kelengkapan dan ketepatan data, kerja sama dengan klien sangat penting untuk saling percaya, sehingga mendapatkan data yang tepat. Pada tahap ini, perawat memvalidasi data yang ada secara akurat, yang dilakukan bersama klien/keluarga dan/atau masyarakat. Validasi tersebut dilaksanakan dengan mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang reflektif kepada klien/keluarga tentang kejelasan interpretasi data. Begitu diagnosis keperawatan disusun, maka harus dilakukan validasi.
4. Menyusun diagnosis keperawatan sesuai dengan prioritasnya
Setelah perawat mengelompokkan, mengidentifikasi, dan memvalidasi data-data yang signifikan, maka tugas perawat pada tahap ini adalah merumuskan suatu diagnosis keperawatan. Diagnosa keperawatan dapat bersifat aktual, resiko, sindrom, kemungkinan dan wellness. Menyusun diagnosis keperawatan hendaknya diurutkan menurut kebutuhan yang berlandaskabn hirarki Maslow (kecuali untuk kasus kegawat daruratan — menggunakan prioritas berdasarkan “yang mengancam jiwa”) :
a. Berdasarkan Hirarki Maslow : fisiologis, aman-nyaman-keselamatan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri
b. Griffith-Kenney Christensen : ancaman kehidupan dan kesehatan, sumber daya dan dana yang tersedia, peran serta klien, dan prinsip ilmiah dan praktik keperawatan.
MASALAH KOLABORATIF
Masalah kolaboratif adalah masalah yang nyata atau resiko yang mungkin terjadi akibat komplikasi dari penyakit atau dari pemeriksaan atau akibat pengobatan, yang mana masalah tersebut hanya bisa dicegah, diatasi, atau dikurangi dengan tindakan keperawatan yang bersifat kolaboratif. Label yang digunakan adalah : Potensial Komplikasi (PK).
MENCEGAH KESALAHAN DALAM MEMBUAT DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Tidak menggunakan istilah medis. Jika harus, hanya sebatas memperjelas, dengan diberi pernyataan `sekunder terhadap`.
contoh : mastektomi b.d kanker
2. Tidak merumuskan diagnosis keperawatan sebagai suatu diagnosa medis
contoh : Resiko pneumonia
3. Jangan merumuskan diagnosis keperawatan sebagai suatu intervensi keperawatan
contoh: Menggunakan pispot sesering mungkin b.d dorongan ingin berkemih
4. Jangan menggunakan istilah yang tidak jelas. Gunakan istilah / pernyataan yang lebih spesifik.
contoh : Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b.d kesulitan bernafas
5. Jangan menulis diagnosis keperawatan yang mengulangi instruksi dokter
contoh : Instruksi untuk puasa
6. Jangan merumuskan dua masalah pada saat yang sama
contoh : Nyeri dan takut b.d prosedur operasi
7. Jangan menghubungkan masalah dengan situasi yang tidak dapat diubah
contoh : Resiko cedera b.d kebutaan
8. Jangan menuliskan etiologi atau tanda/gejala untuk masalah
contoh : Kongesti paru b.d tirah baring lama
9. Jangan membuat asumsi
contoh : Resiko perubahan peran b.d tidak berpengalaman menjadi ibu baru.
10. Jangan menulis pernyataan yang tidak bijaksana secara hukum
contoh : Kerusakan integritas kulit b.d posisi klien tidak diubah setiap 2 jam.
DOKUMENTASI DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Gunakan format PES untuk semua masalah aktual dan PE untuk masalah resiko
2. Catat diagnosis keperawtaan resiko ke dalam format diagnosis keperawatan
3. Gunakan istilah diagnosis keperawatan yang ada dalam NANDA; terbaru 2007–2008
4. Mulai pernyataan diagnosis keperawatan dengan mengidentifikasi informasi tentang data untuk diagnosis keperawatan
5. Masukkan pernyataan diagnosis keperawatan ke dalam daftar masalah
6. Hubungkan setiap diagnosis keperawatan ketika menemuan masalah perawatan
7. Gunakan diagnosis keperawatan sebagai pedoman untuk pengkajian, perencanaan, intervensi dan evaluasi.
Tujuan Dokumentasi Diagnosis Keperawatan :
1. Mengkomunikasikan masalah klien pada tim kesehatan
2. Mendemonstrasikan tanggung jawab dalam identifikasi masalah klien
3. Mengidentifikasi masalah utama untuk perkembangan intervensi keperawatan.
Diagnosis keperawatan saat ini dapat mengacu ke NANDA 2007-2008 dengan beberapa revisi diagnosis, contohnya:
“Gangguan pola tidur” (2005-2006) menjadi “Insomnia” (2007-2008).
Selain itu terdapat juga diagnosis keperawatan yang baru, diantaranya untuk peningkatan gula darah.
V. PERENCANAAN
Setelah diagnosa keperawatan dirumuskan, maka untuk membuat formulasi rencana tindakan keperawatan ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan :
1. Menentukan perioritas berdasarkan diagnosa keperawatan
2. Menentukan kriteria hasil (tujuan jangka panjang dan jangka pendek)
3. Menentukan rencana tindakan dan
4. Didokumentasikan.
Rencana keperawatan merupakan suatu petunjuk yang merumuskan tentang kegiatan keperawatan yang ditulis secara mandiri oleh perawat. Meskipun perawat tetap terlibat dalam peran kolaborasi, pemberian pengobatan yang diprogramkan oleh dokter.
Beberapa faktor yang menentukan perioritas masalah keperawatan (Griffith-Kenney dan Christensen, 1986) antara lain :
1. Ancaman kehidupan dan kesehatan
2. Sumber daya dan dana yang tersedia
3. Peran serta klien
4. Prinsip ilmiah dan praktek keperawatan yang mempengaruhi penentuan perioritas diagnosa keperawatan.
Setelah menentukan diagnosa keperawatan yang diperioritaskan, ditetapkanlah tujuan jangka panjang untuk mengatasi masalah secara umum dan jangka pendek untuk mencapai tujuan jangka panjang. Karakteristik penulisan tujuan adalah uraian tentang penampilan, situasi, sesuai dengan sandar yang ada dan adanya target waktu. Penampilan merupakan suatu aktivitas yang dilakukan klien dan biasanya dapat diobservasi. Tujuan yang ditetapkan haruslah dapat diukur dan dapat mengerahkan intervensi keperawatan.
Rencana tindakan keperawatan, adalah merupakan kegiatan akhir dari perencanaan. Strategi yang digunakan antara lain pendidikan kesehatan, pemecahan masalah, pemakaian diri secara terapiutik, dan penerapan prinsip praktek keperawatan dan harus memnggambarkan fungsi mandiri perawat profesional, sesuai dengan sumber praktek keperawatan yang ditetapkan.
Contoh :
Diagnosa : Potensial terjadi infeksi pasca operasi sehubungan dengan adanya luka insisi kulit dan jaringan.
Tujuan Jangka Panjang : Setelah satu minggu pasca operasi tidak terjadi infeksi pada luka operasi.
Tujuan Jangka Pendek : – Tanda-tanda infeksi tidak terlihat ( kemerahan, bengkak, nyeri, panas dan kehilangan fungsi ).
– Proses penyembuha optimal (tampak jaringa granulasi, waktu penyembuhan sesaui).
Rencana Tindakan : – Lakukan teknik aseptik dan antiseptik sebelum dan pada saat serta sesudah melakukan tindakan keperawatan
– Lakukan penggantian balutan sesuai standar
– Observasi proses penyembuhan
– Jelaskan tentang cara perawatan luka
Catatan : Didalam penulisan rencana perlu diperhatikan pedoman sebagai berikut :
1. Diberi tanggal dan ditanda tangani oleh perawat yang bertanggung jawab
2. Sesuai dengan tujuan yang akan dicapai
3. Diungkapkan dalam bentuk spesifik dan dapat memberi petunjuk pada perawat dan klien
4. Mencakup upaya pencegahan, peningkatan dan rehabilitasi
5. Mencakup kegiatan kolaborasi dan koordinasi
6. Disusun berdasarka perioritas
7. Mencakup otonomi dan individualitas klien
8. Mengikuti perkembangan keperawatan
9. Mencakup masa depan klien
IV. IMPLEMENTASI :
Implementasi yang dilakukan sesuai dengan petunjuk berikut :
1. Tindakan keperawatan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah divalidasi.
2. Menggunakan keterampilan interpersonal, intelektual dan teknikal yang dilakukan secara efektif dan efisien.
3. Tindakan yang dilakukan dan respon klien harus didokumentasikan.
4. Keamanan fisik dan psikologi perlu dilindungi. Hal ini menentukan keberhasilan rencana tindakan keperawatan.
Contoh : Sesuai dengan contoh diatas maka implementasi keperawatan yang diulakukan adalah sebagai berikut :
1. Melakukan teknik aseptik dan antiseptik sebelum dan pada saat, serta sesudah melakukan tindakan keperawatan (mencunci tangan)
2. Melakukan penggantian balutan sesuai standar/ketentuan
3. Mengobservasi proses penyembuhan
4. Menjelaskan tentang cara perawatan luka
Setelah tindakan keperawatan dilakukan, maka dicatat semua respon klien dan secara lisan/tertulis dapat disampaikan kepada tim keperawatan dan tim kesehatan lain.
Elemen yang dieveluasi pada tahap pelaksanaan :
1. Respon klien
2. Respon staf
3. Pencapaian hasil
4. Kecermatan dan keabsahan
5. Alternatif dan tindakan yang dilakukan
V. EVALUASI
Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang merupakan aktifitas yang dilakukan berkesinambungan dari tahap awal (pengkajian) sampai tahap akhir (evaluasi) dan melibatkan klien / keluarga. Evaluasi bertujuan untuk menilai efektifitas rencana dan strategi asuhan keperawatan yang dilakukan.
Evaluasi terdiri dari :
1. Evaluasi proses, untuk menilai apakan prosedur dilakukan sesuai dengan rencana, benar atau tidak, misalnya apakah sebelum melakukan tindakan keperawatan menjelaskan prosedur tindakan tersebut kepeda klien.
2. Evaluasi hasil, berfokus kepada perubahan perilaku dan keadaan kesehatan klien sebagai hasil tindakan keperawatan. Misalnya klien bebas dari tanda-tanda infeksi.
Sesuai dengan contoh sebelumnya, maka eveluasi yang dilakukan terhadap klien dengan pasca operasi tersebut adalah :
Luka operasi sembuh secara optimal dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi.
KESIMPULAN
Penggunaan proses keperawatan secara tepat dan cermat dalam asuhan keperawatan akan memberikan manfaat atau keuntungan pada klien/keluarga dan perawat serta tim kesehatan lain. Dengan penerapan proses keperawatan diharapkan kualitas pelayanan keperawatan dapat ditingkatkan dan juga dapat digunakan untuk menilai apakah standar praktek keperawatan yang telah ditetapkan dapat dipergunaka sebagaimana mestinya. Selain itu proses keperawatan juga merupakan alat untuk melakukan asuhan keperawatan yang profesional.
DAFTAR PUSTAKA
1. Carpenito, I. J. 1992. Nursing Diagnosis : Application to Clinical Practise 4¬ th. ed, Philadelphia. J.B. Lippincott Company.
2. Tim Departemen Kesehatan. 1993, Standar Asuhan Keperawatan, Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
3. ________________ 1991. Pedoman Penerapan Proses Keperawatan Di Rumah Sakit. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
4. Griffith – Kenney, J.W., & Christensen, P.J. Nursing Process : Application of Theories, Frameworks and Model. St. Louis : The. C.V. Mosby Company.
5. Nursalam. 2001. Proses & Dokumentasi Keperawatan : Konsep & Praktek. Jakarta. Salemba Medika.
6. Varcarolis. 1990. Foundation of Psyciatric- Mental Health Nursing. Philadelphia. J.B Lippincott Co.
7. Zeigler, S.M. Vaughan – Wrobel, & Erlen, J.A. 1986. Nursing Process, Nursing Diagnosis, Nursing Knowledge. Notwalk . Appleton – Country – Crifts.
DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA MENURUT NANDA
A. Lingkungan
- Kerusakan penatalaksanaan rumah (kebersihan)
- Resiko cedera
- Resiko infeksi
B. Struktur komunikasi
- Kerusakan komunikasi
C. Struktur peran
- berduka antisipasi
- berduka disfungsional
- Isolasi sosial
- Prubahan dalam proses keluarga
- potensial peningkatan menjadi org tua
- perubahan menjdi org tua
- perubahan penampilan peran
- kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah
- gangguan citra tubuh
D. Afektif
- Perubahan proses keluarga
- perubahan menjadi org tua
- potensial peningkatan menjadi org tua
- berduka antisipasi
- koping keluarga tidak efektif, menurun
- koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan
- resiko terhadap tindak kekerasan.
E. Sosial
- Perubahan proses keluarga
- perilaku mencari bantuan kesehatan
- konflik peran orang tua
- perubahan menjadi org tua
- potensial peningkatan menjadi org tua
- perubahan pertumbuhan dan perkembangan
- perubahan pemeliharaan kesehatan
- kurang pengetahuan
- isolasi sosial
- kerusakan interaksi sosial
- resiko terhadap tindak kekerasan
- ketidakpatuhan
- gangguan identitas diri
F. Fungsi perawa keluarga
- perubahan pemeliharaan kesehatan
- potesial peningkatan pemeliharaan kesehatan
- perilaku mencari pertolongan kesehatan
- ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik atau pengobatan keluarga
- resiko terhadap penularan penyakit
G. Strategi koping
- Potensial peningkatan koping keluarga
- Koping keluarga tidak efektif, menurun
- koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan
- Resiko tindakan kekerasan
Daftar Diagnosa Keperawatan Keluarga Berdasarkan NANDA, 1995
Daftar Diagnosa Keperawatan Keluarga Berdasarkan NANDA, 1995
1 . Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Lingkungan
a. Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah (Higienis lingkungan)
b. Resiko terhadap cidera
c. Resikonterjadi infeksi(penularanpenyakit)
2. Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Struktur Komunikasi
Komunikasi Keluarga Disfungsional
3. Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Struktur Peran
a . Berduka dan diantisipasi
b. Berduka disfungsional
c . Isolasi sosial
d. Perubahan dalam proses keluarga (dampak adanya orang yang sakit
terhadap keluarga)
e. Potensial peningkatan menjadi orang tua
f. Perubahan menjadi orang tua (krisis menjadi orang tua)
g. Perubahan penampilan peran
h. Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah
i. Gangguan citra tubuh
4. Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Fungsi Afektif
a. Perubahan proses keluarga
b. Perubahan menjadi orang tua
c . Potensial peningkatan menjadi orang tua
d. Berduka yang diantisipasi
e . Koping keluarga tidak efektif, menurun
f. Koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan
g. Resiko terhadap tindakan kekerasan
5. Diagnosa Keperawatan Kcluarga pada masalah Fungsi Sosial
a. Perubahan proses keluarga
b. Perilaku mencari bantuan kesehatan
c. Konflik peran orang tua
d. Perubahan menjadi orang tua
e. Potensial peningkatan menjadi orang tua
f. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan
g. Perubahan pemeliharaan kesehatan
h. Kurang pengetahuan
i. Isolasi sosial
j. Kerusakan interaksi sosial
k. Resiko terhadap tindakan kekerasan
1. Ketidakpatuhan
m. Gangguan identitas pribadi
6. Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Fungsi Perawatan Kesehatan
a. Perubahan pemeliharaan kesehatan
b. Potensial peningkatan pemeliharaan kesehatan
c . Perilaku mencari pertolongan kesehatan
d. Ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik keluarga
c. Resiko terhadap penularan penyakit
7. Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Koping
a. Potensial peningkatan koping keluarga
b. Koping keluarga tidak efektif, menurun
c. Koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan
d. Resiko terhadap tindakan kekerasan
Definisi Diagnosa Keperawatan Keluarga
(1) Kerusakan Penatalaksanaan Pemelikaraan Rumah
Suatu kondisi dimana keluarga mengalami/beresiko mengalami kesulitan mempertahankan kebersihan dan menjaga lingkungan rumah,
(2) Resiko terhadap Cedera yang Berhubangan Dengan Kurangnya Kesadaran terhadap Bahaya Lingkungan
Suatu kondisi dimana keluarga mempunyai resiko yang merugikan yang disebabkan kurangnya kesadaran terhadap bahaya lingkungan atau usia maturasi.
(3) Resiko terhadap Penularan Infeksi ,
Kondisi dimana keluarga beresiko menularkan agen agen patogen ke anggota yang lain.
(4) Komunikasi Keluarga Disfungsional
Keadaan dimana keluarga.mengalami atau beresiko terhadap penurunan untuk mengirim/menerima pesan.
(5) Berduka yang Diantisipasi
Suatu keadaan dimana keluarga mengalami reaksi reaksi dalam berespon terhadap kehilangan bermakna yang diperkirakan.
(6) Berduka Disfungsional
Suatu kondisi dimana keluarga mengalami berduka jangka panjang yang tak teratasi dan menimbulkan aktivitas yang merusak.
(7) Peruhahan Proses Keluarga Berhubungan Dengan Dampak Anggota Keluarga yang Sakit Dalam Sistem
Keluarga
Suatu keadaan dimana dukungan keluarga yang biasa diterima, mengalami/ beresiko mendapat suatu stressor yang mengancam terapi keluarga yang sebelumnya efektif.
(8) Perubahan menjadi Orang Tua
Suatu keadaan dimana Keluarga memperlihatkan ketidakmampuan yang nyata atau potensial dalam menyediakan lingkungan yang mendukung dalam pemeliharaan tumbuh kembang anggota keluarga.
(9) Perubahan Penampilan Peran
Suatu kondisi dimana keluarga rnengalami/beresiko mengalaini gangguan pada cara ia merasakan penampilan perannya.
(10) Gangguan Citra Tubuh
Suatu pernyataan pengalaman keluarga yang berada dalam/kemungkinan mengalarni suatu gangguan dalam cara individu menerima citra tubuhnya sendiri.
(11) Koping Keluarga Menurun
Suatu keadaan dimana orang utama yang menjadi pendukung (anggota kcluarga, teman dekat) tidak cukup/tidak efektif memberi dukungan untuk kesepakatan, kenyamanan, bantuan atau dorongan yang dibutuhkan
mencapai keluarga untuk mengatasi atau melaksanakan tugas tugas secara adaptif berkenaan dengan perubahan kesehatannya.
(12)Koping Keluarga Tidak Efektif Ketidakmampuan
Suatu keadaan diniana kcluarga menunjukkan/beresiko menunjukkanpedl
destruktif dalam berespon terhadap ketidakmampuan untuk menga
stressor internal/cksternal karena ketidakadckuatan sumber (fisik, kogniti~’ psikologis).
(13)Resiko terhadap Tindakan Kekerasan
Suatu keadaan dimana kcluarga terah atau beresiko menj adi merusak yang diarahkan pada orang lain atau lingkungan.
(14) Perilaku Mencari Bantuan Kesehatan
Suatu kondisi dimana keluarga pada kesehatan yang stabil secara aktif mencari cara untuk mengubah kebiasaan kesehatan diri/lingkungan untuk lebih meningkatkan kesehatan.
(15) Konflik Peran Orang Tua
Suatu keadaan dimana orang tua mendapatkan pengalaman pertama atau mengalami perubahan peran dalam berespon terhadap faktor dari luar (sakit hospitalisasi, perceraian, perpisahan).
(16) Perubahan Pertumbuban dan Perkembangan
Suatu keadaan dimana keluarga mengalami / beresiko terhadap kerusakan kemampuan untuk melakukan tugas tugas perkembangan.
(17) Perubahan Pemeliharaan Kesehatan
Suatu keadaan dimana keluarga mengalami / beresiko untuk mengalami gangguan dalam kesehatan yang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat atau kurangnya pengetahuan dan ketrampilan dalam menangani suatu kondisi.
(18) Kurang Pengetahuan
Suatu kondisi dimana keluarga mengalami kekurangan pengetahuan kognitif
dan ketrampilan mengenai suatu kondisi atau pengobatan.
(19) Isolasi Sosial
Suatu keadaan dimana keluarga mengalami/memahami suatu kebutuhan
atau mengharapkan untuk melibatkan orang lain tetapi tidak dapat membuat
hubungan tersebut.
(20) Kerasakan Interaksi Sosial
Suatu keadaan dimana keluarga mengalarni atau beresiko mengalami pengalaman
yang negatif, insufisiensi atau respon yang tidak memuaskan dalam interaksi.
(21)Ketidakpatuhan
Suatu kondisi dimana keluarga yang sebenamya mau melakukan tetapi dicegah dari melakukannya oleh faktor faktor yang menghalangi ketaatan terhadap anjuran yang berhubungan dengan kesehatan yang diberikan oleh profesi kesehatan.
(22)Ganggudn Identitas Pribadi
Suatu kondisi dimana keluarga mengalami atau beresiko mengalarni ketidakmampuan untuk membedakan antara dalam dirinya dan bukan dirinya.
(23) Penatalaksanaan Aturan Terapeutik Keluarga : Tidak Efektif
Suatu pola dimana keluarga mengalamilberesiko mengalami kesulitan dalam menyatukan program kehidupan sehari hari untuk penatalaksanaan penyakit dan gejala sisa penyakit yang memenubi tujuan kesehatan khusus.
1 . Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Lingkungan
a. Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah (Higienis lingkungan)
b. Resiko terhadap cidera
c. Resikonterjadi infeksi(penularanpenyakit)
2. Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Struktur Komunikasi
Komunikasi Keluarga Disfungsional
3. Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Struktur Peran
a . Berduka dan diantisipasi
b. Berduka disfungsional
c . Isolasi sosial
d. Perubahan dalam proses keluarga (dampak adanya orang yang sakit
terhadap keluarga)
e. Potensial peningkatan menjadi orang tua
f. Perubahan menjadi orang tua (krisis menjadi orang tua)
g. Perubahan penampilan peran
h. Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah
i. Gangguan citra tubuh
4. Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Fungsi Afektif
a. Perubahan proses keluarga
b. Perubahan menjadi orang tua
c . Potensial peningkatan menjadi orang tua
d. Berduka yang diantisipasi
e . Koping keluarga tidak efektif, menurun
f. Koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan
g. Resiko terhadap tindakan kekerasan
5. Diagnosa Keperawatan Kcluarga pada masalah Fungsi Sosial
a. Perubahan proses keluarga
b. Perilaku mencari bantuan kesehatan
c. Konflik peran orang tua
d. Perubahan menjadi orang tua
e. Potensial peningkatan menjadi orang tua
f. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan
g. Perubahan pemeliharaan kesehatan
h. Kurang pengetahuan
i. Isolasi sosial
j. Kerusakan interaksi sosial
k. Resiko terhadap tindakan kekerasan
1. Ketidakpatuhan
m. Gangguan identitas pribadi
6. Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Fungsi Perawatan Kesehatan
a. Perubahan pemeliharaan kesehatan
b. Potensial peningkatan pemeliharaan kesehatan
c . Perilaku mencari pertolongan kesehatan
d. Ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik keluarga
c. Resiko terhadap penularan penyakit
7. Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Koping
a. Potensial peningkatan koping keluarga
b. Koping keluarga tidak efektif, menurun
c. Koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan
d. Resiko terhadap tindakan kekerasan
Definisi Diagnosa Keperawatan Keluarga
(1) Kerusakan Penatalaksanaan Pemelikaraan Rumah
Suatu kondisi dimana keluarga mengalami/beresiko mengalami kesulitan mempertahankan kebersihan dan menjaga lingkungan rumah,
(2) Resiko terhadap Cedera yang Berhubangan Dengan Kurangnya Kesadaran terhadap Bahaya Lingkungan
Suatu kondisi dimana keluarga mempunyai resiko yang merugikan yang disebabkan kurangnya kesadaran terhadap bahaya lingkungan atau usia maturasi.
(3) Resiko terhadap Penularan Infeksi ,
Kondisi dimana keluarga beresiko menularkan agen agen patogen ke anggota yang lain.
(4) Komunikasi Keluarga Disfungsional
Keadaan dimana keluarga.mengalami atau beresiko terhadap penurunan untuk mengirim/menerima pesan.
(5) Berduka yang Diantisipasi
Suatu keadaan dimana keluarga mengalami reaksi reaksi dalam berespon terhadap kehilangan bermakna yang diperkirakan.
(6) Berduka Disfungsional
Suatu kondisi dimana keluarga mengalami berduka jangka panjang yang tak teratasi dan menimbulkan aktivitas yang merusak.
(7) Peruhahan Proses Keluarga Berhubungan Dengan Dampak Anggota Keluarga yang Sakit Dalam Sistem
Keluarga
Suatu keadaan dimana dukungan keluarga yang biasa diterima, mengalami/ beresiko mendapat suatu stressor yang mengancam terapi keluarga yang sebelumnya efektif.
(8) Perubahan menjadi Orang Tua
Suatu keadaan dimana Keluarga memperlihatkan ketidakmampuan yang nyata atau potensial dalam menyediakan lingkungan yang mendukung dalam pemeliharaan tumbuh kembang anggota keluarga.
(9) Perubahan Penampilan Peran
Suatu kondisi dimana keluarga rnengalami/beresiko mengalaini gangguan pada cara ia merasakan penampilan perannya.
(10) Gangguan Citra Tubuh
Suatu pernyataan pengalaman keluarga yang berada dalam/kemungkinan mengalarni suatu gangguan dalam cara individu menerima citra tubuhnya sendiri.
(11) Koping Keluarga Menurun
Suatu keadaan dimana orang utama yang menjadi pendukung (anggota kcluarga, teman dekat) tidak cukup/tidak efektif memberi dukungan untuk kesepakatan, kenyamanan, bantuan atau dorongan yang dibutuhkan
mencapai keluarga untuk mengatasi atau melaksanakan tugas tugas secara adaptif berkenaan dengan perubahan kesehatannya.
(12)Koping Keluarga Tidak Efektif Ketidakmampuan
Suatu keadaan diniana kcluarga menunjukkan/beresiko menunjukkanpedl
destruktif dalam berespon terhadap ketidakmampuan untuk menga
stressor internal/cksternal karena ketidakadckuatan sumber (fisik, kogniti~’ psikologis).
(13)Resiko terhadap Tindakan Kekerasan
Suatu keadaan dimana kcluarga terah atau beresiko menj adi merusak yang diarahkan pada orang lain atau lingkungan.
(14) Perilaku Mencari Bantuan Kesehatan
Suatu kondisi dimana keluarga pada kesehatan yang stabil secara aktif mencari cara untuk mengubah kebiasaan kesehatan diri/lingkungan untuk lebih meningkatkan kesehatan.
(15) Konflik Peran Orang Tua
Suatu keadaan dimana orang tua mendapatkan pengalaman pertama atau mengalami perubahan peran dalam berespon terhadap faktor dari luar (sakit hospitalisasi, perceraian, perpisahan).
(16) Perubahan Pertumbuban dan Perkembangan
Suatu keadaan dimana keluarga mengalami / beresiko terhadap kerusakan kemampuan untuk melakukan tugas tugas perkembangan.
(17) Perubahan Pemeliharaan Kesehatan
Suatu keadaan dimana keluarga mengalami / beresiko untuk mengalami gangguan dalam kesehatan yang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat atau kurangnya pengetahuan dan ketrampilan dalam menangani suatu kondisi.
(18) Kurang Pengetahuan
Suatu kondisi dimana keluarga mengalami kekurangan pengetahuan kognitif
dan ketrampilan mengenai suatu kondisi atau pengobatan.
(19) Isolasi Sosial
Suatu keadaan dimana keluarga mengalami/memahami suatu kebutuhan
atau mengharapkan untuk melibatkan orang lain tetapi tidak dapat membuat
hubungan tersebut.
(20) Kerasakan Interaksi Sosial
Suatu keadaan dimana keluarga mengalarni atau beresiko mengalami pengalaman
yang negatif, insufisiensi atau respon yang tidak memuaskan dalam interaksi.
(21)Ketidakpatuhan
Suatu kondisi dimana keluarga yang sebenamya mau melakukan tetapi dicegah dari melakukannya oleh faktor faktor yang menghalangi ketaatan terhadap anjuran yang berhubungan dengan kesehatan yang diberikan oleh profesi kesehatan.
(22)Ganggudn Identitas Pribadi
Suatu kondisi dimana keluarga mengalami atau beresiko mengalarni ketidakmampuan untuk membedakan antara dalam dirinya dan bukan dirinya.
(23) Penatalaksanaan Aturan Terapeutik Keluarga : Tidak Efektif
Suatu pola dimana keluarga mengalamilberesiko mengalami kesulitan dalam menyatukan program kehidupan sehari hari untuk penatalaksanaan penyakit dan gejala sisa penyakit yang memenubi tujuan kesehatan khusus.
Rabu, 17 September 2014
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Sejahtera untuk kita semua
Seiring canggihnya IPTEK sebaiknya akan memperkokoh IMTAQ.
Dengan IPTEK segalanya menjadi gampang, informasi apapun bisa didapat dengan sekajap.
Bagi yang bisa memanfaatkan kecanggihan ini bisa sangat menguntungkan, tapi bagi yang menyalahgunakan bisa membuntungkan.
Semoga sekelumit kata ini bisa menjadi renungan,
Terima kasih
Waassalam...
Salam Sejahtera untuk kita semua
Seiring canggihnya IPTEK sebaiknya akan memperkokoh IMTAQ.
Dengan IPTEK segalanya menjadi gampang, informasi apapun bisa didapat dengan sekajap.
Bagi yang bisa memanfaatkan kecanggihan ini bisa sangat menguntungkan, tapi bagi yang menyalahgunakan bisa membuntungkan.
Semoga sekelumit kata ini bisa menjadi renungan,
Terima kasih
Waassalam...
Langganan:
Postingan (Atom)